Ternyata dia... (?)
Entah seberapa lama aku tak sempat menulis
catatan disini, padahal begiiiiiiiitu banyak hal yang terlewati selama aku
menghilang. Satu persatunya memang selalu ingin kutulis dalam harian ini, tapi
entah apa ya yang menghalangiku. Seperti tak ada energi yang cukup untuk aku
bisa memulai apa yang ingin kutuliskan.
Tapi Malam ini, ada satu hal yang mampu
menggerakan jari-jariku untuk mencetak huruf demi huruf pada layar komputerku.
Kenapa bisa ya? Entah lah… Dan apa hal itu istimewa? Tidak! rasanya biasa saja…
Aku membaca tulisan salah seorang teman
baruku, baru saja.. dan ada yang kusuka!! "Tersenyumlah
kepada orang lain, karena senyumanmu itu adalah hak orang lain" satu
kalimat yang cukup membuat aku bisa memulai tulisan ini. Kalimat sederhana,
tapi itu bisa membuat senyuman tipis di bibir ini tersungging. Aku tertawa
kecil, ya sekarang aku sedang tertawa kecil.
Beberapa Minggu lalu, sesuatu yang amat
sangat menyesak dadaku membuat aku tak bisa menarik senyuman demi senyuman. Mungkin
orang-orang sekitarku keheranan, dengan sikap dan tingkah lakuku yang mulai
aneh. Aku lebih banyak menyendiri, dan melakukan segala sesuatu sendiri,
menghindar dari keramaian, menjauh dari kumpulan orang-orang yang sebenarnya
bisa membantuku untuk bangkit.
Aku benci! amat benci pada saat-saat dimana
memoarku tak dapat lagi membendung segala ingatan tentangnya. Ya, dia.. sosok
yang telah lama bersembunyi dalam curamnya jurang hati. Dan akan selamanya
bersembunyi, sampai pada saatnya aku tak bisa lagi menemukan namanya pada
bagian hatiku yang nyaris mati. Semenderita itukah aku? Tentu saja tidak..
“Tinta yang habis untuk menuliskan kisah kita kemarin mungkin
tak sebanyak air samudera, jadi seharusnya itu bisa hilang digulung ombak. Walau
tetap saja pasti tersimpan di dasarnya. Baiklah… akan aku hanyutkan segala rasa
ini, bersama cinta dan kasihku padaNya.. biar hanya DIA saja yang menggenggam…”
Perlahan, harus
kuajari diriku sendiri untuk bisa tersenyum kembali. Setelah semua hal yang tak
pernah kuduga itu terjadi. Mungkin siapa pun akan bertanya tentang hal apa? Tapi
apa yang aku tulis ini, akan membuat presepsi yang sama pada setiap pikiran
yang membacanya, mungkin.
Ya, malam ini..
aku hanya ingin berterimakasih pada penulis kalimat sederhana itu.. satu
kalimat yang menyadarkanku, betapa tak berhatinya aku ketika aku memalingkan
wajah dan membenamkan senyuman pada orang lain. Padahal itu semua disebabkan
dukaku sendiri, duka yang seharusnya tak orang lain ketahui. Dan harus kuobati
sendiri sayatan demi sayatannya.
Teruntuk mamaku
tercinta, maaf atas senyumanmu yang terbalaskan hanya dengan anggukan kecil. Padahal
setiap kali kulihat raut wajahmu di pertengahan malam seperti ini, rasanya
ingin memelukmu dan menyuguhkan senyuman terbaikku untukmu. Ya, senyumku adalah
hakmu.. hak orang lain yang menjadi kewajibanku…
Mulai detik ini,
aku ingin kembali pada diriku sendiri. Aku pun rindu tarikan senyumanku yang
cukup lama terpendam luka. Biar mata ini menagis saja, tapi aku harus tetap
bisa tersenyum dan selalu tersenyum. Karena aku ingin semua lebih baik, lebih
dari sekedar apa yang kuduga. Ya tentu saja… mulai detik ini..
Allahu.. ternyata dia... lewat satu kalimatnya Engkau titipkan energi untukku...
Semoga energi sederhana itu tak hanya sampai pada satu tulisanku ini, Tapi,
esok.. dan seterusnya.. menjadi energi untukku selalu tersenyum, bagaimanapun
dan apapun luka dan duka yang teralami. Ada bahagia yang lebih bernyawa.. pada
setiap jiwa yang ingin menyambut indahnya takdirNya..
~00:18~
Inspirasi A!
Inspirasi A!
Comments
Post a Comment