(Cerpen) “Mutiara Hikmah”
“Mutiara Hikmah”
oleh : Derin Nur'aini
“Neng..
beli neng! Lima ribu 2 bungkus.” Suara seorang ibu paruh baya bersarang
ditelinga seraya menyodorkan sesuatu ke hadapan kami. Di tangan kanannya ada
sebungkus cemilan yang sangat kusuka, sementara di tangan kirinya menggantung keresek
besar yang ketika kulihat penuh dengan macam-macam makanan ringan yang
terbungkus rapi, juga sebuah wadah berisi satu buah kue lapis lekat di
genggamannya.
Sayangnya
aku dan teman-teman baru saja selesai makan siang, dan di dalam tas kami sudah
penuh macam-macam cemilan seperti itu. Mengingat mabit yang akan berlangsung
mala mini telah kami persiapkan jauh-jauh hari, termasuk akomodasi untuk
sekedar pengganjal perut.
Melihat sorot
mata sang ibu yang penuh harap, aku tak karuan, dalam dada ini tiba-tiba
menyeruak rasa iba. Napas ibu itu tersengal, ia tak bisa menyembunyikan lelah di hadapan kami.
“Duduk
Bu!” Sambil kulihat barang dagangannya, aku mempersilahkan ia mengambil napas
sejenak. Niatku untuk membeli dua diantara tumpukan makanan itu tak bisa
kupenuhi. Kurogoh kantong sana-sini, tapi hanya selembar uang bergambar
Pangeran Antasari yang kudapati. “Masya Allah.. dompetku…” dompetku sepertinya
tertinggal di rumah. “Ya Allah, aku ingin membantu ibu ini, tapi uangku hanya
dua ribu, dan aku tak tahu bagaimana aku pulang nanti” aku tertunduk dan
berpikir tajam.
“Kalau
tidak jadi beli tidak apa-apa neng, ibu mau keliling lagi saja.” Perkataannya
memecah pikiranku, ia tersenyum walau sebenarnya aku tahu senyum itu
menyiratkan kecewa.
Kubalas
senyumnya, sungguh ada sesal dalam hatiku. Ia mencoba beranjak dari tempat
duduknya, melangkah, dan…
“Astagfirullah.. Bu, hati-hati!!”
Kami kaget, ia terjatuh dihadapan kami. Dengan segera kami membantunya untuk
bangun. “Ibu disini saja dulu ya, biar kami bantu ibu berjualan.” Kata salah
seorang temanku. “Vi!! Acaranya akan segera mulai, bagaimana kalau…..” “Iya Bu,
ibu istirahat dulu, keliatannya ibu masih cape ya..” Aku memotong pembicaraan
Sarah dan mengiyakan perkataan Silvi. “Jangan neng, tidak usah, ibu takut
merepotkan kalian.” Ia menolak. “Ngga kok Bu..” sambung Nailul.
Kami pun berunding. “Kita bagi empat
barang dagangannya ya! Supaya efektif waktu. Lu kamu disekitar sini saja, aku
ke daerah sana bareng Sarah, kamu kesana ya Vi.” Jelasku singkat sambil menunjuk
arah-arah sekitar. “Duh, Ri.. aku disini saja ya!!” Sarah enggan dengan rencana
ini, kerut di keningnya hadir. “Lagian siapa nih yang jaga tas kalian? Kan
banyak barang berharga” Tegasnya mencari alasan. “ Insya Allah tidak apa-apa,
tapi ya sudahlah.. temani ibunya!” pintaku. Aku, Silvi, dan Nailul berpencar.
Tak banyak waktu, dalam hitungan 15 menit dagangan ini harus habis karena acara
kami akan dimulai bada Ashar.
15
menit berlalu juga, terlihat sedang mengobrol dengan Ibu tadi. Sementara dari
kejauhan Nailul berteriak riang, “Riiiiii, sudah terjual!” “Alhamdulillah..”
sahutku. Cepat-cepat kami hampiri Sang Ibu dan juga Sarah.
“Bu.. kami hanya bisa bantu ibu segini, afwan
ya makanannya sisa dua bungkus lagi.” Kata Silvi lemas. “Ngga apa-apa neng, makasih ya neng
makasih..” ada rona bahagia hadir di garis wajahnya, dan barulah aku bisa
merasa tenang. “Hmmm, ayo siapa yang mau beli ini?” tanyaku pada 3 orang
temanku itu. Silvi dan Nailul menyudutkan matanya kepada Sarah. “Heyyy.. Apa?
Aku??” Sarah melongo. “Sudah, Ayo rah beliii ya!” aku bercanda dan sedikit
memaksa.
“Allahuakbar..
Allahuakbar..” Senandung panggilan shalat ashar itu berkumandang. Siapapun
harus menyegerakan memenuhinya sebagai suatu kewajiban seorang muslim. “Kami
harus segera ke mesjid Bu.” Aku berniat pamit. “Ya neng, ibu juga mau. Tapi ibu
takut…” jawabnya. “Loh Bu kenapa takut?” Silvi menyahut. “Ini luka ibu takut
mengotori mesjidnya, baunya juga takut mengganggu orang lain yang shalat.” Ia
menunjukan luka di kakinya. Kami yang jelas melihat seketika memejamkan mata
tanpa sadar. “Astagfirullah..” Ucap kami dalam hati, ada yang miris.
Aku
pikir, luka di kaki sebelah kirinya cukup parah. Tumitnya nyaris habis, luka
itu menggelembung bernanah, berlubang penuh darah, bercampur debu dan bakteri
dari mana-mana, sampai (maaf) bau busuk tercium di indera kami. Entah kuman
atau virus apa yang menggerogoti luka itu, luka yang terlihat semakin membesar
dan membesar. Luka yang tak terlindungi, tak terawat. Bagaimana tidak, ibu ini
hanya menggenakan sepasang sandal jepit yang nyaris kandas dampalnya, mungkin
terlalu lama menyusuri jalan kehidupan bersama si ibu.
Lagi-lagi
hatiku berteriak. Sambil memapah ibu ini yang jalannya terpogoh-pogoh menahan
sakit, mataku menyisakan embun. Rasa rindunya untuk menemui Rabbnya, Rabb kami
lebih besar dari sekedar ketakutannya tadi. Kami berjalan menuntung sang Ibu
menuju masjid yang ada di seberang jalan. Masjid yang mulai ramai dipenuhi
Jemaah dari berbagai penjuru. Santri-santri pun berbondong, dengan mushaf yang
mereka dekap di dada. Aktivitas terhenti sejenak, semua kan menghadapkan wajah
pada Illahi di waktu Ashar yang Insya Allah penuh berkah ini.
Setelah
selesai berwudhu, ibu ini menarik tanganku dan berbisik. “Neng, ibu pinjam kaos
kakimu ya! Darah dan nanahnya terus keluar.” “Allahu..” kusebut Ia dalam hati.
Kusembunyikan kaca-kaca dimataku. Aku meminta Silvi memberikan pesanan kaos
kaki milikku kepadanya. Tak menunngu lama, ia pakai kaos kaki itu, aku pun
tutur membantu.
“Auuu,
sakiiit neng..!”
“Maaf
Bu..” aku tak sengaja menyentuh luka itu. Hatiku masih menjerit-jerit dan
berkata, “Seandainya aku punya banyak waktu aku akan mengurusi lukamu dulu Bu,
membersihkan dan membalutinya dengan perbam agar luka ini tak berdebu.”
Iqamah
mengalun, jeritan hatiku tersita. Kami segera menuju lantai atas, masuk ke
dalam shaf yang sudah hampir penuh. Tetap kugandeng si ibu, ia sesekali melihat
kakinya yang kini tertutupi kaos kaki, hanya memastikan taka da nanah dan darah
yang menetes keluar barang kali.
Aku
tahu, pasti sakit rasanya luka itu. Tapi ibu yang luar biasa ini melakukan
ruku’dan sujudnya dengan sempurna, tak peduli betapa ngilunya, ia tetap
khusyuk.
Usai
shalat, terdengar secuplik penguuman untuk para peserta mabit yang harus segera
registrasi ulang dan mengikuti acara, tentusaja termasuk diriku. Silvi, Nailul,
dan Sarah segera bergegas merapikan barang bawaan kami, akupun demikian. Ibu
tadi masih didekatku, ia bertanya. “Neng, kalian mau ujian ya? Mau masuk kuliah
ya? Mau masuk ITB ya?” senyuman menyudut dibibirnya. Aku terhenyak, kenapa ibu
ini tau, mungkin tadi bnyak bercerita bersama Sarah, pikirku. “Iya Bu, kami
akan menempuh Ujian-ujian itu.. tolong doakan kami ya Bu” Ibu yang sejak tadi
bersama ku mengangguk. Dia meneeruskan doanya dan kuaminkan dalam hati.
Tak
ada pilihan lain, kami harus berpisah dengan ibu ini. Walau terasa sangat
berat, tapi… Bada Ashar yang penuh rahmat Allah menjadi waktu terakhir
pertemuan kami bersama dengan ibu yang sore ini membuat kami merenung
dalam-dalam. “Ibu cepat sembuh ya Bu.. semangat..” Aku memeluknya, begitupun
dengan yang lain. Kulihat Sarah meneteskan air mata. Baru kali ini kulihat ia
bergelimang haru. “Huuh.” Pertemuan kami dengan seorang ibu tua ini banyak
menyisakan pelajaran.
Kami
meneruskan tujuan datang ke tempat ini. Mabit yang sangat berkesan! Kami
mendapat bekal bahwa “UJIAN” bukanlah ajang pembuktian kepandaian, tapi
penilaian patuh dan ikhlas kita terhadap proses belajar. Allah itu tak pernah
meminta hasil, yang terpenting adalah prosesnya. Masalah hasil, tentu Allahlah
yang akan menentukan. Kalau prosesnya itu baik, pastilah hasilnya pun akan
baik. Insya Allah.. dan ingatlah, bahwa janji Allah itu pasti.
Sampailah
kami pada waktu sepertiga malam. Waktu yang selalu kami nantikan. Saat Allah
turun ke ArsyNYA, melihat, merangkul, mendekap insan-insan perindu kasih
sayangNya. Insan yang matanya bertahan ketika yang lain nyenyak terpejam, mata
yang senantiasa ingin menangis, ya.. menangis karenaNya.
Angin
terasa semakin dingin, tapi ia tak mengalahkan kesejukan jiwa kami di waktu
yang mulia ini. Satu juz ayat cinta Allah mengantarkan kami menemuiNya.
Tegaknya berdiri kami, merasakan kekuatan yang Allah berikan langsung. Sampai
kami berasa di titik terendah penghambaan ini, saat sujud terpaku, terikat hati
kami untuk terus-menerus manautkan lisan dan pikiran padaNya. Sang Pemilik
Cinta. Allah Aza wajalla..
Entah
berapa liter air mata yang bercucuran sampai sepertiga malai ini usai. Sarah
masih menangis tersedu-sedu. Kurangkul ia hangat. Jatuhan embun matanya membasahi
mukena yang kukenakan. Kulihat matanya, kuseka air di lesung pipitnya,
kuberikan senyuman, berharap ada energy yang mengalir lewat genggaman tangan
ini.
Silvi
dan Nailul berada di sampingku, juga samping Sarah, kita duduk melingkar. Kami
bertiga meyaksikan rona wajah Sarah yang seolah ingin berkata.
“A..a..aku..
ingin berjilbab.. Aku ingin berjilbab.” Sarah berkata kepada kami. Kami saling
bertatap, perlahan ada tarikan di sudut bibir ini. “Kenapa tiba-tiba aku inget
ibu tadi?” tanyanya. “Ada apa Rah,?” Aku balik bertanya.
“Ibu
itu.. namanya Bu Isah, sama seperti mama, ya dia mengingatkan aku pada mama
Riiii, Ah.. Aku kangen mama. Apa mama baik disana? Apa mama masih
memperhatikanku? Aku .. Aku nyesel…” Sarah mulai terisak. Kami berusaha
menyimak apa yang ia katakan, dan berusaha pula mengerti persaannya.
“Tadi
saat kalian berjualan, Bu Isah banyak bercerita. Ia bilang kalo dia juga punya
anak seumuran kita. Wajahnya tiba-tiba sedih. ‘Neng, ibu ini berasal dari
kampung yang jauh disana. Datang kemari cuma mau cari uang sepeser dua peser
saja demi anak ibu. Ibu punya 3 orang anak, anak pertama ibu udah besar neng,
udah dibawa sama suaminya, ibu ngga tau dia dimana. Yang kedua umurnya mungkin
sama kayak kalian, tapi .. tapi,dia lebih dulu dipanggil Allah. Ibu seneng neng
kalo ngeliat anak yang masih muda berjilbab kayak kalian, ibu dulu cerewet
banget sama anak ibu, tapi dia belum mau menutup auratnya itu. Rasanya itu
sakit sekali, ibu sering dibentak-bentak, dibilang ngga gaul, ya begtulah neng.
Tapi neng, seorang ibu itu ngga akan pernah merasa disakiti oleh anaknya,
seorang ibu pasti tetep ikhlas. Ibu tetep doakan dia supaya diampuni Allah.
anak yang ke-3 yang ngebuat ibu bertahan. Dia sholeh sekali neng, biarpun ibu
ngga punya apa-apa tapi anak-anak itu harta yang paling berharga. Ibu jualan
sana-sini supaya anak ibu yang bungsu bisa sukses, taat agama, bisa
menyelamatkan nanti ketika di akhirat.’ Mendengar perkataan Bu Diah itu rasanya
ada sesuatu yang menusuk-nusuk. Aku inget mama dulu yang bersikeras nyuruh aku
berjilbab, sampai mama tiada aku belum tampil seperti yang mama mau. Terlambat,
tapi aku ingin mama liat dari surga..”
Sarah
memang belum seterusnya menggenakan jilbab, sesekali ketika ada acara keagamaan
saja dia kenakan kain untuk menutupi rambutnya yang selalu tergerai rapi. Tapi
sekarang, Alhamdulillah.. seorang ibu yang luar biasa perjuangannya telah
menyadarkan sahabat kami yang cantik ini.
Hidayah Allah itu hanya datang
dariNya, bagaimanapun caranya. Indah..
Seorang
ibu telah mengajarkan kami arti perjuangan, seorang ibu telah mengajarkan kami
arti sebuah keikhlasan.. betapapun sakit yang dirasakannya itu menyayat-nyayat
tak ada sedikit saja raut keputusasaan dari wajahnya. Ibu.. yang susah payah
mengandung dan membesarkan putri sulungnya, kemudian ditinggalkan begitu saja
sampai merasa kehilangan. Ibu.. yang dengan sabar menuntun anak keduanya
menujuNya, tapi dihina dan dicaci oleh anaknya sendiri. Tapi luarbiasanya
seorang ibu tiada akan tergantikan oleh berlian manapun dimuka bumi ini. Ibu..
yang senantiasa ikhlas, sabar dan tawakal, merelakan kepergian anaknya dan
berharap Allah mengampuni dosa-dosa putri kesayangannya. Ibu.. yang sungguh
rela menyusuri jalanan-jalanan usang, mencari rupiah, yang walau dengan luka
bercucur nanah ia rasakan getirnya hidup, tanpa seorang suami disampingnya,
tapi ibu ini tetap berjuang. Hanya untuk anak bungsunya yang menjadi tumpuan
harapan, yang dengan kerja kerasnya ia harap dapat menjadikan anak ketiganya bermanfaat.
Ibu yang menantikan rumah dan jubah emas di surgaNya, yang hanya bisa
didapatkan dengan memiliki anak yang shaleh dan shalehah.
***
Wallahualam bisawab..
semoga bermanfaat J
semoga bermanfaat J
Inspirasi kasih : Seorang ibu yang sangat begitu luarbisa
Comments
Post a Comment