Yang Tak Terlupakan
Pagi
itu, angin yang berhembus desis, rasanya agak sedikit meremuk tulang. Sejuknya
udara di awal hari semakin terasa, terlebih saat terdengar suara kicauan
burung-burung yang bernyanyi riang menyambut datangnya sinar lembut sang surya.
Seorang
gadis mungil yang cantik jelita tampak sedang duduk di beranda depan rumahnya,
ia berdiam di bawah rindang dedaunan yang sesekali menetaskan embun bening yang
halus. Suasana yang sama yang ia rasakan saat itu, masih sangat terniang dalam
ingatannya.
Saat
nyanyian burung-burung membangunkan ia dari tidur lelapnya, saat mentari
menyapa dengan pancaran cahaya yang menembus jendela ruang kamarnya, ia membuka
mata dan bergegas menuju beranda tempat ia berdiam setiap pagi. Namun, ada yang
berbeda.
Pagi
itu, gadis kecil ini tampak malang.
Matanya berkaca-kaca seakan ia sedang didera kesedihan yang teramat dalam.
Bagaimana tidak, suasana pagi yang setiap hari ia lewati, kini berbeda dari
biasanya.
Semua
berawal dari kepergian ibunda tercintanya yang kini tak dapat lagi menemani
setiap lorong waktu yang ia lewati. Kini hanya tinggal nama ibundanya saja yang
masih dapat ia lihat di atas goresan batu nisan. Tak ada lagi kebersamaan di
setiap pagi yang indah, tak ada lagi canda tawa yang mengisi kosongnya hari.
Betapa teririsnya hati si gadis dengan kepergian malaikat terindah dalam
hidupnya itu. Namun, tak satupun yang dapat ia perbuat. Hanya meratapi apa yang
baru saja ia alami.
Indah
namanya, indah pula parasnya. Gadis yang baru saja melangkah menuju gerbang
kehidupannya yang baru, tanpa kasih sayang seorang ibu di sampingnya.
“Bunda,
aku rindu padamu. Aku ingin memelukmu, walau hanya dalam mimpi.” Ia berkata
kepada dirinya sendiri. Yang menjadi saski kesedihannya itu hanyalah tempat
dimana ia selalu terpaku, diam-diam sedikit demi sedikit air matanya menetes
terjatuh.
“Setiap
air mata yang ku buang mudah untuk
mongering kembali, tapi kenanganku bersama bunda tak menghilang semudah air
mata ku” ia masih sangat terpukul dengan takdir yang ia jalani. Walau kepergian
bundanya itu sudah terpaut jauh, lama ditelan waktu.
Indah,
seorang anak gadis yang pintar, ia memiliki segudang prestasi di sekolahnya.
Berbagai bidang keahlian ia kuasai, bahkan setiap hobi yang ia gemari
tersalurkan dengan baik. Piala dan penghargaan yang telah berhasil ia kumpulkan sudah tak dapat
dihitung jari. Semua orang yang mengenalnya nyaris tak dapat berkomentar miring
terhadapnya, semua mengagumi sosok seorang Indah.
Namun
sayang, itu berlaku semasa bundanya masih dapat tersenyum manis untuknya di
pagi hari yang cerah, selagi bunda yang sangat dicintainya masih dapat
menyemangati setiap gerik yang ia lakukan.
Tetapi
sekarang, semua telah berbeda. Tak ada Indah yang seperti dulu. Indah yang
periang kini berganti menjadi sosok yang pendiam sangat. Dalam kesehariannya
yang sekarang, Indah nampaknya tak memiliki semangat untuk menjalani semua yang
ia hadapi.
“Indah,
apa kamu mau terus menerus seperti ini? Masa depanmu menanti, jangan hantarkan
dirimu kesana dengan segala keluhan sayang!” kata ayahnya seraya menghampiri
Indah yang masih tertegun di depan beranda rumah, walau sejak tadi waktu
berlalu ia masih diam di sana.
Beranda depan rumah adalah tempat dimana Indah selalu berdiam bersama Bundanya,
tak heran jika ia tak ingin pergi dari tempat indah itu.
“Apa
ayah tak sedih dengan kepergian bunda?” Tanya Indah jepada ayahnya dengan wajah
yang dihadapkan kuyup oleh air mata.
“Tentu
ayah sangat sedih sayang, tapi kita tak boleh berlarut-larut dalam kesedihan.
Yakinlah bahwa Tuhan mempunyai rencana Indah dibalik kepergian bundamu.”
Ayahnya berusaha untuk membuatnya tegar.
“Ayah,
aku masih sangat terpukul dengan kepergian bunda. Tentu ayah juga mengerti. Aku
melewati setiap kegiatanku bersama bunda, bunda selalu ada untukku. Dari mulai
aku terbangun, bunda yang pertama kali menyapaku. Lalu sampai malam yang telah
bergulir pun, bunda yang menemani aku sampai mataku terpejam ayah. Namun kini,
tak ada sosok bunda yang temani aku, aku sangat ingin bunda kembali di sini.
Temani setiap hari yang aku lewati.”
“Tak
ada yang abadi di dunia ini, semua pasti akan kembali kepada yang menciptakan
kita. Hanya saja ini masalah waktu, bundamu pergi lebih cepat. Tapi percayalah
sayang, nanti kita akan bertemu dengan bunda di tempat yang paling indah.”
Ayahnya
pun tak kuasa menahan air mata, ia memeluk Indah yang nampak terkulai lemah.
Hari-hari
terus berganti, dan tiba waktunya untuk Indah kembali bersekolah dalam suasana
tahun pelajaran baru. Ayahnya yang biasa tak pernah mengantarkan Indah ke
sekolah, sekarang mulai untuk dapat menggantikan posisi bunda yang setiap hari
mengantarkan Indah, untuk kemudian kembali saat waktu pulang sudah tiba.
Indah
yang kini duduk di bangku SMA memulai segala sesuatu tanpa kehadiran seorang
bunda yang selama ini tak pernah beranjak dari sampingnya. Ia mencoba untuk
menjadi gadis yang tegar dan mandiri, setelah selama ini ia selalu bersikap
manja dan ingin ditemani bundanya.
“Sekarang
aku akan berusaha menjalani hidupku tanpa kehadiran bunda, aku harus
membuktikan kepada ayah kalau aku juga bisa bertahan. Dan tentu saja kepada
bunda, bunda akan senang melihatku bahagia. Aku sayang bunda dan ayah.”
Tekadnya
sudah bulat dalam hati. Ia takkan lagi mengeluh dengan apa yang ia miliki
sekarang.
Di
sekolahnya, Indah mulai mampu bersosialisasi dengan teman-teman barunya. Hingga
ia mendapati seorang kawan yang ia rasa baik sekali. Nura, sosok teman yang
hadir dan menjadi teman keseharian Indah.
Jutaan
jam berlalu, persahabatan yang terjalin antara Indah dan Nura semakin erat.
Setiap kegiatan yang ada di sekolah mereka lalui bersama. Mereka tampak saling
menyanyangi.
Suatu
ketika, Indah sudah di tunggu oleh Ayahnya yang ijin dari kantor untuk sekedar
menjemput dan mengantarkannya pulang. Saat itu, Indah masih bersama dengan
Nura.
Indah
mengajak Nura untuk berkungjung ke rumahnya, karena selama mereka bersahabat,
belum pernah sama sekali mereka saling berkungjung. Nura menturuti kehendak
Indah. Mereka pulang bersama menuju rumah indah dengan diantar oleh si ayah
yang setia menjemput putri kesayangannya itu.
Tak
lama waktu yang terbuang di perjalanan, mereka sampai di rumah dan ayah Indah
segera kembali ke kantor setelah pamit kepada kedua gadis yang berkarib dekat
itu.
Nura
terhenyak sejenak, ketika melihat rumah yang Indah miliki. “Rumah sahabatku ini
besar sekali. Indah, kamu sangat beruntung.” Pikirnya dalam hati.
“Nura,
kenapa? Ayo kita masuk!” indah memecah lamunan Nura.
Mereka
tak berlama-lama di luar. Karena cuaca agak sedikit mendung, dan angin yang
berhembus menelusuk tulang. Membuat bulu kuduk berdiri. Dingin sekali.
Indah
dan Nura diam di ruang tamu sambil mengerjakan tugas sekolah yang mereka harus
selsaikan. Sementara Indah sedang asyik menulis, pandangan Nura menembus kaca
ruang depan itu dan menatap tempat yang ia lihat sangat indah.
“Indah,
rasanya kalau kita mengerjakan tugas di sana
akan lebih cepat selsai. Tempatnya mendukung, hehehe..” ajak Nura kepada Indah
sambil menunjuk ke luar.
Indah
tak dapat menolak keinginan sahabatnya, walaupun tempat itu hanya akan
membuatnya teringat kepada bunda dan kembali menangis di sana.
Mereka
pergi ke tempat itu, di bawah rindangan pohon mereka kembali mengerjakan tugas.
“Indah, selama aku di sini aku tak melihat ibumu?” Tanya Nura. Tentu saja
pertanyaan itu semakin membuat Indah tak kuasa menahan tangisnya. Ia langsung
menangis dan memeluk Nura.
“Kenapa
kamu menangis? Aku salah ya bertanya seperti itu?” Nura berkata dengan
ketidaktahuannya.
“Ngga, kamu ngga salah
kok ! bundaku …mmhh .. bundaku …”
Indah berusaha untuk menjelaskan, tapi rasanya sulit sekali.
“Bundamu
kenapa?” Tanya Nura semakin penasaran.
“Nura ingin bertemu bunda?” Indah
malah balik bertanya
“Tentu saja! Aku ingin menemuinya,
anaknya saja sudah seperti malaikat. Baik sekali, aku ingin tahu ibunya seperti
apa. Hehehe..”
“Baik lah, ayo! Ikut aku kalo emang mau ketemu sama bundaku.”
Indah menarik tangan Nura, dan berjalan menuju belakang rumah.
“Kenalkan, ini bundaku!” Air mata
Indah tak dapat terbendung lagi.
Betapa kagetnya Nura, ketika yang ia
lihat hanya batu nisan yang bertuliskan nama bunda Indah. Ia ikut menagis
bersama Indah.
“Indah, maafkan aku! Aku gak tau kalo ….”
“Nura, bundaku telah tiada sejak aku
duduk di bangku SMP. Kecelakaan yang terjadi saat aku dan keluargaku akan pergi
ke rumah nenek di luar kota,
merenggut nyawa bunda. Ia melindungiku agar aku tidak terbentur ke tebing dan
akhirnya bunda yang menanggung semua. Ia pertaruhkan nyawanya demi aku. Kepergian bundaku membuat segalanya berputar.
Aku tak lagi bersemangat. Karena dulu, bunda yang selalu temani setiap hariku.
Bunda selalu ada untukku, namun setelah kejadian itu, tak ada lagi sosok bunda
dalam keseharianku, aku sudah seperti orang yang paling menderita. aku
kesepian….” Indah bercerita panjang lebar, ia menjelaskan semuanya kepada Nura
yang selama ini tidak tahu apapun.
“Indah, kamu masih beruntung!”
Tanggap Nura sambil air matanya masih tak terhenti.
Indah tentu
heran mendengar itu. Bagaimana mungkin Nura mengatakan ia masih beruntung
setelah ia ditinggal pergi oleh bundanya. Ia tak mengerti dan meminta Nura
menjelaskannya.
Nura mencoba menjelaskan kepada
Indah. “Kamu masih beruntung Indah! Kamu beruntung, dulu kamu pernah merasakan
kasih sayang seorang ibu. Walaupun kini, bundamu telah pergi. Tapi kamu pernah
melewatkan hari-harimu yang indah bersama malaikat hidupmu itu. Tapi, tidak
dengan aku! Aku tak pernah merasakan sentuhan seorang ibu. Aku tak pernah
melihat senyuman yang datang dari bibir ibuku. Aku tak pernah mendapatkan
kasih sayang dari ibuku. Aku tak pernah
merasakan bahagianya hidup bersama ibu.. bahkan ayah..”
Indah serius mendengarkan cerita
Nura, tapi ia masih tak begitu mengerti apa maksud sahabatnya itu.
“Indah, selama ini aku tinggal di
panti asuhan. Aku tumbuh dan besar di sana.
Aku tak pernah tau dari rahim siapa aku dilahirkan. Seumur hidupku, aku tak
pernah mengenal sosok seorang ayah dan ibu. Itu sebabnya aku mengatakan bahwa
kamu masih beruntung, Indah!” Nura menjelaskan semua dengan isak tangis yang
semakin menjadi-jadi.
Kini Indah mengerti apa yang Nura
bicarakan. Indah sadar, bahwa ia selama ini sudah keliru. Ia mengganggap bahwa
setelah kepergian bundanya, ia adalah orang yang paling menderita. Tapi
ternyata, kini ia mengetahui ada orang-orang di luar sana yang lebih merasakan kepedihan daripada
dirinya.
Hadirnya Nura dalam kehidupannya
menjadi pengobat segala luka dan kesepiannya. Nura pula yang membuat dirinya
sadar bahwa ia selama ini beranggapan salah.
Indah peluk Nura dan berusaha untuk
membuatnya tegar dengan apa yang ia alami.
Sekarang, Indah tak ingin menyia-nyiakan
hidup hanya dengan keluhan-keluhan yang akan membuatnya semakin tampak lemah.
Ia kembali menjadi Indah yang dulu, Indah yang periang yang kini kan tentukan keberartian
hidup.
Bersama Nura sahabatnya, Indah
mengarungi hari demi hari dengan senyuman manis yang tampak dari bibir mereka.
Tiada keluhan yang mereka katakana, hanya semangat dalam meniti langkah yang
mereka jalani. Karena mereka yakin, bahwa apa yang telah tergaris dalam suratan
takdir mereka adalah jalan yang terbaik yang Tuhan rencanakan.
“Satu pelajaran yang dapat ku petik dari semua
yang terjadi, ‘jangan pernah mengeluh dengan apa yang telah terjadi, mengeluh
hanya membuat kita terlihat lemah’” kata Indah dengan senyuman.
“Dan
pelajaran lain adalah, ‘jangan pernah menyerah untuk menjalani hidup, karena
hidup itu indah’” Nura menambahkan.
Mereka
berdua semakin bertambah dewasa. Mereka dapat mengatasi setiap masalah yang
hadir dengan baik. Mereka saling menyayangi, saling menyemangati, saling
mengingatkan, apapun mereka jalani untuk menjadi insan-insan yang berarti.
Segala yang telah mereka lewati bersama, akan menjadi kisah cerita kehidupan
mereka di masa remaja yang tak terlupakan.
Comments
Post a Comment