Memandangi Wajah Lelahnya
Ketika malam ini benar-benar menjadi dingin, aku masih terpaku dalam diam yang semakin membeku. Kulihat wajah lelah miliknya.. seolah menyisakan keringat yang menyamudera. maafkan aku.. yang belum mampu mengikis lelahmu..
embun di mataku mulai menyudut, teringat semua kasih sayangnya.. padaku, yang sampai detik ini belum bisa kubalas walau sedikit saja..
"seandainya kau memberikan harga pada bilangan-bilangan cintamu padaku.. aku harus berkerja keras seperti apa untuk membayarnya ya?"
namun ia begitu mulia... tak pernah sedikit pun memintaku untuk mengganti cucuran keringat dan air matanya...
maafkan aku ayah..
embun di mataku mulai menyudut, teringat semua kasih sayangnya.. padaku, yang sampai detik ini belum bisa kubalas walau sedikit saja..
"seandainya kau memberikan harga pada bilangan-bilangan cintamu padaku.. aku harus berkerja keras seperti apa untuk membayarnya ya?"
namun ia begitu mulia... tak pernah sedikit pun memintaku untuk mengganti cucuran keringat dan air matanya...
maafkan aku ayah..
Comments
Post a Comment