"Kamu menang", "Ini Janjiku.."


Entah karena apa, aku rela keberangkatanku dari kota hujan itu tertunda. Satu janji konyol yang terucap ringan dari bibirku membuat waktu pagi itu tersita. Bus yang seharusnya aku tumpangi sudah enyah, hilang dari pandangan yang kupalingkan sejenak. Aaaaah, kenapa aku harus tertinggal? Itu pertanyaan atau penyesalan?

Hahaha… Aku tertawa ringan mengingat ulahku sendiri. Malam kemarin, aku suguhkan sebuah pertanyaan konyol pada seseorang. Rasanya itu tak mungkin bisa terjawab, menurut hematku. Sampai kukatakan padanya, jika ia bisa menjawab dengan benar aku akan membawakannya sesuatu. Ya, buah tangan dari kota hujan, kataku. 

Aku sadar itu janji, tapi dengan tenang kusangka ia tak akan bisa menebak jawaban yang benar dari pertanyaan itu. Benar saja, satu, dua, tiga jawabannya membuat aku tertawa. Berkali-kali, ia mencoba memecahkan pertanyaanku, tak ada yang benar. Ia nyaris menyerah dan berkata “Kamu menang”, tawaku menipis menjadi senyuman, dan aku menjawab “Kita tidak sedang bertanding”.

Nyaris, nyaris menyerah… tapi aku tahu itu tak akan terjadi. Aku memberikan kesempatan terakhir padanya untuk menjawab lagi, kuhitung mundur kesempatan itu. “Lima” jawabannya salah, “Empat…” bukan itu, “Tiga” salah lagi, “Dua..” dia diam, “Sa…tuuuuu”, jawaban terakhirnya membuatku ingin berteriak.

“Aaaaaaaa”, kenapa bisa ia menebaknya dengan benar? Aku bahkan tak mengerti. Hal yang kukira mustahil tadi, benar-benar terpecahkan olehnya. Aku merasa kalah, dan dia yang menang. Tapi aku ingat bahwa kita tidak sedang bertanding. Aku tahu, dia pasti tertawa terbahak-bahak dengan itu semua. Untung saja kita sedang berada di dua kota yang berbeda. Kalau saja aku ada di hadapannya, mungkin aku hanya bisa diam, tunduk, dan membisu dengan merah di wajahku.

Pertanyaanku dijawab dengan benar olehnya, itu berarti ada yang harus kutepati. Tidaaaaak, malam sudah mau larut dan sesuatu yang kujanjikan tak bisa kudapatkan malam itu juga. Padahal esoknya pukul enam pagi bus ke Bandung akan berangkat. Hey, aku berpikir keras. Sama kerasnya mungkin dengan ia ketika ia juga memikirkan jawaban pertanyaanku. Lagi-lagi aku tertawa, lalu diam kebingungan.

Bagaimanapun, janji adalah janji. Aku tentu harus menepatinya walaupun aku tak menduga akan seperti itu. Bahkan sesuatu yang kuanggap mustahil pun ternyata bisa saja terjadi. Pelajaran berharga dari sebuah kekonyolan kemarin. 

Pagi buta, kubiarkan Bus pertama tak membawaku pulang. Aku berusaha mencari sesuatu untuk memenuhi janjiku. Ya seperti dia yang berusaha mencari jawaban benar untuk pertanyaanku mungkin. Tapi pada dasarnya bukan hanya demikian. Aku hanya ingin janjiku tunai. Sekecil apapun itu dan untuk siapapun itu. 

Karena sungguh, aku mengerti betapa sakitnya hati ini ketika seseorang tak memenuhi janjinya pada kita. Seringan mulut bicara, semudah mulut berkata pun janji kita pada orang lain akan terekam di batinnya. Sengaja atau tak sengaja.  

20 Juni 2014
Inspirasi dari Kota itu..

Comments

Popular Posts