BUKAN HANYA SEKEDAR DUNIA
(inspirasi yang kudapati di kampusku ini)
Perbincangan
sore tadi mengalir demikian ringannya. Pak Ade, dan Kang Ajat, dua orang
karyawan salah satu kantin di kampusku yang membuat senja kuisi dengan
renungan.
“Saya bekerja disini sudah 14 tahun. Ya, cukup
lama, membuat kulit muka ini jadi sedikit keriput” jelasnya tersipu, menjawab
pertanyaan sederhana yang kulontarkan tadi.
“Dari mulai dulu gaji saya hanya sebelas ribu
per hari, sampai sekarang bertemu mahasiswa baru lagi disini.” Ronanya yang
kutangkap hanya bahagia.
Aku
semakin bertanya. Betapa lamanya mereka bekerja di tempat ini. Belasan tahun,
bahkan karyawan yang lain sampai 29 tahun mengabdikan diri untuk memenihi
kebutuhan mahasiswa disini. Angka yang nyaris sampai di kepala tiga itu…. Apakah
membuat mereka semua sejahtera? Pikirku dalam hati yang laun-laun terjawab sore
tadi.
Pak
Ade awalnya merupakan seorang karyawan di sebuah perusahaan. Entah apa yang
membuatnya melepas pekerjaan yang mungkin dulu sudah dapat menghidupi ia dan istrinya.
Apapun itu sebabnya, merupakan jalan ia sekarang bisa bercerita tentang satu
keikhlasan yang luar biasa kepadaku.
Beberapa lama
menganggur, tapi amalnya insya Allah tak pernah ‘menganggur’. Ia dan istrinya
mengajar anak-anak mengaji di sebuah masjid dekat rumahnya. Sampai Allah
takdirkan ia bertemu salah seorang mahasiswa yang saat itu mengurusi salah satu
usaha di kampus ini.
Bekerjalah ia di sebuah kantin
yang sering kucicipi makanan lezat dan minuman segarnya. Ternyata itu buatan mereka
berdua. Pak Ade sempat bercerita dulu sebelum ia benar-benar menjadi karyawan
disini, pengurus mengadakan lomba untuk membuat minuman special. Dan ialah
rupanya yang memenangkan itu, lalu karyanya pun dapat kunikmati sampai
sekarang. Perjalanan yang cukup menarik.
Hari-harinya dulu sampai
sekarang ia jalani. Ia sangat senang bisa berada di lingkungan kampus ini. Dan mencoba
untuk tak sekedar bekerja saja. Ia sering promosikan rutinitasnya untuk
mengajar anak-anak kepada mahasiswa-mahasiswa disini. Dan pada saai itu, cukup
banyak mahasiswa yang membantu ia mengajar. Semakin senang dan senang ia
rasakan. Bisa berbagi dan terus beramal. “Setidaknya ada yang bisa saya lakukan
untuk mendidik generasi bangsa ini” tuturnya.
Seiring berjalannya waktu,
jumlah pengajar semakin limit menuju nol. Padahal sampai sekarang katanya
anak-anak semakin bertambah. Sempat terpikir di benakku bahwa aku siap untuk
menjadi volunteer baru yang membantunya. Semoga kelak terlaksana apapun yang
bisa kulakukan untuk menjadi orang bermanfaat.
Ia bercerita tentang
ombang-ambing perjalanannya selama belasan tahun bekerja di tempat ini. Suka duka
memang selalu ada. Tapi bagaima kita menepis duka itu untuk selalu
menjadikannya suka. Itu satu hal yang dapat kucermati dari pengalamannya.
“Gaji disini
tak seberapa. tak sebesar gaji buruh-buruh pabrik mungkin. Tapi kalau itu semua
menjadi beban yang dipikirkan, takkan pernah bisa ada habisnya. Saya tak
menjadikan penghasilan sebagai target utama. Karena jika tak sampai, sulit saya
bahagia. Tapi dengan keikhlasan, gaji yang kata orang sedikit cukup bagi saya,
dan membahagiakan istri saya Alhamdulillah.”
Aku
terpaku mendengar perkataannya. Mungkin hanya seribu satu bapak yang bisa
demikian menikmati kesederhaan hidup. “Bukan hanya sekedar dunia, ini takdir
dan jalan yang membuat saya bahagia. Sebisa mungkin saya bertahan disini,
selama bisa memberi kebermanfaatan.” Aku tak dapat lagi menanggapinya. Terlalu tergugah
mungkin dengan satu ketulusannya.
Ia
juga bercerita bahwa selama ia bekerja disini, satu persatu keluarganya pergi. Ya,
pergi menghadap illahi.. awal ia bekerja ayahnya, 4 tahun kemudian ia punya
seorang anak, anak yang sangat dicintainya, dan anak itu segera pergi pula
menyusul kakeknya. Dan tahun-tahun terakhir ibunya pun turut menghadapNYA.
“Berat,
menyedihkan memang. Tapi ya ada banyak hikmah dari itu semua” kulihat matanya
mulai berkaca saat cerita itu satu-satu ia ungkap. Aku hanya tersenyum. Dan berkata,
“Bapak luar biasa”.
“Tapi masa-masa kesedihan itu
bisa ditepis dengan baik, kuncinya ya dengan bahagia saja. Bukan hanya berpikir
tentang dunia saja.” Itu mungkin kesimpulan yang berusaha ia sampaikan padaku.
Sementara pak Ade banyak
bercerita, Kang Ajat yang jauh lebih muda darinya turut menyimak dan antusias. Iapun
sama luar biasanya.
Begitulah rupanya,
satu kisah yang bisa kuambil hikmahnya kali ini. Tentang sebuah kebahagiaan
yang lahir dari keikhlasan dan kesederhanaan. Lalu dengan berpikir bukan hanya
sekedar dunia lah yang membahagiakan. Kemampuan kita untuk terus dapat beramal
dan memberi manfaat untuk orang lain lah yang sebenarnya menjadi kunci bahagia.
Semoga dapat
mengambil pelajaran,
Wallahualam :)
Subhanallaah..
ReplyDeleteLuar biasa :')
hehe.. mba faiz.. (y) kisah ini nyata loooh ... hasil dari sharing kemarin,
Deletesubhanallah ..
ReplyDeletetrimakasih rin :) , kau berikan cambukan terhadap diri ini agar senantiasa bersyukur dan tidak selalu memandang dunia sebagai acuan hidup ini..
semoga Allah membalas semua usaha mu yang gigih berdakwah dengan cara mu ini ..
Aamiin Allahuma aamiin .. semoga selalu di ingat, dan berfaat ya (y)
Delete