“JADI PEPIMPIN? MEMANGNYA BISAAA??”


“JADI PEPIMPIN? MEMANGNYA BISAAA??”
(Sebuah catatan perjalanan dalam menuntaskan LMD 171 SALMAN ITB)
(Part 2)

 “Jaga kepekaan mata hati!”
kata yang menjadi tema perjalanan melelahkan untuk sampai di lembah bukit-bukit yang berjajar kokoh ini. Gelap tak mesti turut dalam pemikiran kami! Malam berselimut dingin banyak memberikan pelajaran, tentang arti sebuah kepemimpinan.
Memimpin itu ialah ..
“THE POWER OF INFLUENCE NOT THE POWER OF K-E-K-U-A-S-A-A-N”
Betapa pentingnya pengaruh seorang pemimpin. Bukan tentang kekuasaan yang bisa membuat seorang pemimpin seperti seorang raja yang dapat membuatnya berwibawa. Tapi lihatlah bagaimana pengaruhnya untuk suatu perubahan, yang ‘membaikkan’.
Pemimpin, haruslah diberi kepercayaan oleh orang yang dipimpinnya. Orang yang rela dan senang hati di pimpin oleh seorang pemimpin harus punya kepercayaannya terhadap ia. Bahwa ia bisa memimpin.
Pemimpin itu haruslah mempunyai visi, karena visi merupakan khas seorang pemimpin. Jadilah pemimpin yang dapat menampung aspirasi, dan dapat menentukan keputusan yang bijak. Bukan menjadi seorang dictator! Milikilah ciri khas memimpin yang baik. Belajarlah untuk dapat menjadi seorang pemimpin yang dirindukan rakyatnya, dirindukan masyarakatnya, dirindukan bangsanya.
Ketika menjadi seorang pemimpin, jangan pernah menolak aspirasi siapapun. Jangan pernah untuk menolak alasan apapun. Karena seorang pemimpin yang baik akan menerima apa saja yang menjadi saran dan ide baginya, dan akan dengan mudah dan bijak memutuskan mana yang terbaik.
Pemimpin yang baik, adalah ia yang takkan pernah hilang jejak kepemimpinannya. Cobalah kita ingat-ingat dan kenali panglima-panglima besar dalam peradaban islam. Pada suatu perang besar, merekalah yang paling berani dan paling terdepan menghadapi musuh-musuh. Bukan hanya berada di belakang kemudian memerintah dengan semaunya saja. Teladan kita Rasulullahpun mencontohkan untuk menjadi pemimpin yang berani jadi eksekutor pertama.
Sebagai seorang pemimpin, kita harus memahami diri sendiri dan diri mereka yang akan dipimpin. Memimpinlah dengan mengenali karakter yang akan dipimpin. Dengan demikian tentu saja kita akan mampu bersimpati dan empati. Bukan menjadi pemimpin yang egois,dan hanya memberikan komando, tapi mejadi seorang pemimpin yang mampu menempatkan diri.
Mari, kita belajar menjadi seorang pemimpin yang baik, yang dirindukan kehadirannya, di kenang-kenang jejak kepemimpinannya. Menjadi seorang pemimpin! Kalaupun belum bisa untuk memimpin orang lain, ayo kita belajar memimpin diri sendiri. . Usia kita boleh saja masih muda, tapi pemikiran kita harus mulai untuk belajar dewasa. Menyikapi hidup, membangun suatu kebermanfaatan hidup!
Wallahualam.. semoga bermanfaat :)

Comments

Popular Posts