Menunggu berlalu...

Catatan Dalam keheningan, 29 Oktober 2013

Bukan yang pertama kali kupandangi tetesan infus itu. Rasanya ingin berteriak seraya mengeluarkan air mata yang lama tertahan disudut kelopaknya. Melihatnya terbaring lemah tanpa suara membuat perasaanku pun ikut melemah. Aku terlalu takut kehilangannya, sampai-sampai aku tak berani melepas jemari dari genggamanya.
Dia.. seorang wanita yang ku sebut lembut “mamah”.. sudah lama mengidap penyakit yang kini menyerangnya lagi.. mungkin selama umurku hidup bersamanya, selama itu pula sakit yang ia rasa datang dan pergi.

Rasanya baru saja jumat kemarin ia buatkan segelas susu hangat untukku, dengan penuh cinta ia menyuruhku meminumnya. Sambil membenarkan letak leherku yang kaku di pembaringan. Aku tak cepat mendengar. Kubiarkan air itu sampai dingin kembali.."tunggu mah masih gak enak" tapi dia memaksaku dengan sabar, dan sekarang aku yang merasakan. bagaimana khawatir dan rasa takut ini hadir ketika melihat orng yang paling dicintai terkulai lemah tak berdaya.

“Mamah ayo minum teh hangat nya!!” ia hanya mengangguk.. “Mah sedikit saja”..bahkan tak merespon permintaanku.. “mamah.. mamah denger teteh kan..maah” aku semakin gemetar.. melihat raut wajah nya yang semakin pasi.. “Allah...” desisnya pelan. Aku tak tahu lagi, apa ia mendengarku memintanya meminum teh manis yang kubuat ini.. tanganku sesekali mengambil lembaran tisu. Mengusap wajahnyanya pelan yang kuyup oleh keringat dingin. Aku mengerti.. keringat ini bukti bahwa ia menahan sakit yang begitu hebat..

“Mamah kuat.. mamah sembuh ya mah…teteh sayang mamah ..”  kulihat air mata meyudut menjatuhi pipinya.. mamah mendengarku .. pasti mamah mendengar ucapanku. demi Allah.. aku tak kuat lagi melihatnya menangis.. aku pun sudah banyak mengundang air matanya Rabb.. jangan kau uji ia dengan apa yang tak mampu ia hadapi.. Ruangan ini semakin bergeming..hanya angin yang menyaksikanku menangis kecil.

Air mata kuhantar dengan satu perasaan.. perasaan yang tak mampu lagi ku deklarasikan..aku begitu menyanyanginya... aku tak mau melihatnya kesakitan ! aku tak mauuu... dari dulu sampai sekarang entah seberapa banyak tusukan jarum yang pernah ia  rasakan.. menembus kulitnya yang halus, mengalirkan cairan infus ke sela-sela nadinya. Waktu aku masih kecil, aku tak begitu mengerti.. berada di rumah sakit sama sepeti berada di rumah.. bisa main dan lari lari kecil bahkan bisa nonton tv.. lihat kartun kesayangan.. aku yang waktu itu masih berumur 5 tahun bersikap polos.. kubuat minuman hangat untk mamah.. yang aku tak mengerti itu manis atau pahit..

“mamah cepet sembuh ya.. biar bisa anter derin ke sekolah..”  kata-kata itu mengalir, seraya kutarik senyuman termanis buat bundaku itu.
Aku masih terlihat riang.. kuciran yang terikat di rambutku naik turun saat aku berlarian lecil..walaupun sebenarnya aku sangat khawatir..tapi kepolosanku menutupi rasa takutku.. detik ini.. latar tempat yang menjadi tema perjuangan mamah kunikmati suasananya.. aku tak lagi bisa menyembumyikan rada takutku dengan senyum dan berlari lari kecil.  aku tak lagi bisa berbicara seringan itu, aku tak bisa lagi menyiguhkan wajah riangkuu..

Lemah.. lemahnya semakin bertambah-tambah.. aaahhh. aku rindu candaannya .. mah ayo sembuh mah ayo aku ingin memaksanya.. ia mungkin merasakan apa yang aku rasakan. matanya pelan pelan terbuka .. tehh.. udah makan? udah makan obat?”
masya allah mah... dirimu sedang terbaring sakit pun apa yang kau tanyakan ketika kau bangun?
kau tanyakan aku.. mamah aku baik baik saja sekarang.. dirimu yang harus cepat sembuh ..
aku ini sehat aku ini kuat jika melihatmu kuat ..

Mulianya seorang ibu.. ketika ia sakit pun yang dipikirkannya adalah kesehatan anaknnya.. Allah... aku tak sanggup menahan air mata ini.. tapi jangan jatuhkan depan ibuku.. kutahan-tahan jatuhan air mata ini.. sampai tak bisa lagi kubendung.. aku pergi sejenak.. memalingkan wajah resahku atas kesembuhannya..
Satu.. dua.. tiga malam berlalu ..kunikmati suasana rumah sakit yang selalu senyap ini.. sudah lebih dari seminggu labu-labu itu berganti-gantian mengalirkan cairan infus ke tubuh bundaku.. rasanya lelah.. menantikan ucapan dokter untuk menyuruh mama pulang.. tapi saat kuingat lagi.. rasanya sedikitpun aku tak harus menggubris lelahku.. pasti mamah lebih lelah mengurusiku selama ini..selama 18 tahun ini.

Kumanipulasi wajah dihadapannya, mencoba menyiratkan kesedihan dalam-dalam.. nasihat-nasihat sayang itu tak henti dia berikan .. tapi sampai kapan tempat ini menjadi latarnya?? Rabb.. kuingin sedikit mamaksaMu untuk mnyembuhkan bundaku.. tapi ada yang pelan-pelan membuatku sadar.. bahwa ini harus kusyukuri sebagai kasih sayangMu pada kami.. bila aku dan bundaku masih harus melewati baris waktu yang cukup lama untuk menikmati sakit ini.. jadikan sebagai penawar dosa kami Rabb..  aku yakin atas penjagaanMu wahai Allah... kupohonkan yang terbaik.. segala yang terbaik..
Kuatkan aku..kuatkan bundaku.. kuatkan ayahku.. kuatkan adikku Rabb.. “Teteh tau kamu kangen mamah de.. sabar ya..”

adikku yang baru duduk di bangku kelas 1 sd harus berusaha menjadi anak kecil yang super mandiri. pergi.. dan pulang sekolah tanpa antar jemput.. makan siang.. malam.. sendiri.. mengerjakan prnya sendiri.. mandi.. main.. semua tanpa pengawasan mamah.. ahhh... aku haru melihat sosok kecil yang tegar itu.. ketika suara adzn magrb berkumandang dan gelap pelan-pelan menyelimuti petang.. kuhentikan ia dari permainannya.. ayo kita shalat dulu ..ajakku padanya..

dengan gesit ia segera ambil wudlunya.. lalu sujud ruku dan berdiri bersama sama-denganku.. selepas salam.. kulihat tangan mungilnya menengadah.. Allah... aku tak kuat melihatnya berkaca dalam pelukkan doa padaMu.. lucunya.. kenapa seorang kakak terkesan lebih lemah dari adiknya.. kaka macam apa aku ini.. tangannya yang menengadah ia usap ke wajah.. melihatku ia tersenyum .. “teh ko mamah lama di rumah sakitnya.. dede pengen kesana.. tapi …….”

--- to be continue ---

Comments

Popular Posts