“Setangkai Mawar untukmu di Surga”

26 November …

Siang ini, wangi hujan menyeruak berteman terik matahari.. Rintiknya berjatuhan membasahi bumi yang kupijak. Aku hendak melangkah, ke tempat itu.. tempat yang tiga tahun lalu sempat kupijak pula. Deras, semakin deras.. butirannya perlahan menembus kain yang kujuntai hingga ke dada. Namun, ada yang membuatku tetap melangkah, diantara air hujan yang semakin merasuk dingin.
Tanpa kusadari ada yang mengiringi jatuhan hujan ini, di sudut mataku.. mutiara bening pun satu persatu jatuh.. tik.. tik.. tik.. seperti hujan.. namun perlahan..
Sudut-sudut ruang yang kulewati masih sama, seperti inilah.. terniang-niang langkahku dulu. Menghantarnya.. dalam dekapan keikhlasan putranya yang tampan lagi bijaksana. Aku hanya tertunduk, berharap taka da yang mengenaliku.. sambil berusaha menghilangkan memoir itu di niangan batinku.
Kususuri jalan ini, sendiri.. aku tak peduli lagi.. rindu memaksaku tetap melangkah. Ya rinduku padanya.. pada dia.
Aku tahu.. sebenarnya cukup kusampaikan saja padaNYA. Lalu dapat kutitipkan doa terbaik untuknya.. tapi, sejenak kuingin menengoki pusarannya yang tlah lama tak kulihat.
Jantungku semakin berdegup kencang, semakin kencang..
Seperti akan bertemu dengan seseorang. Ya, seseorang yang tlah lama aku rindui, mungkin memang demikian analoginya. Namun, yang mampu kutatap disana hanya nisan. Sebuah nisan kokoh bertuliskan namanya.
Tuhan…. “Aku ini rindu padanya…”
Seketika nanar hatiku bertanya, adakah ia lihat bahwa aku disini?? Tepat berdiri di tanah yang sama.. berdeku di samping bumi yang menjadi tempat teristirahat terindah baginya.
Dengan tajam, kutatap ukiran nama di atas pualam putih yang halus itu. Kueja nama yang anggun.. seanggun sosoknya..
‘aku memang tak sempat menemuinya di dunia ini, tapi entah kenapa aku merasa begitu dekat dengannya. Sempat aku dengar lembut suaranya.. saat itu.. saat sebelum kutahu di akan pulang lebih dulu’
Saat aku ini rindu.. kudekap ia dalam angan. Menyapa.. bercengkrama mesra dalam mimpi, mimpi dalam buah lelah yang tak pernah panjang. Satu.. dua.. tiga detik yang selalu saja cepat berakhir.. tapi bagiku penuh arti..
Begitulah kusampaikan rindu-rinduku. Dan saat ini, ketika aku berada di dekat pusarannya. “Setangkai Mawar untukmu di Surga” desisku pelan. Angin semakin meremuk tulang, jika aku sadar mungkin aku tahu bahwa tubuhku kuyup oleh air hujan. Tapi .. yang terasa hanya hujan-hujan di mataku.
“kalaupun aku tak sempat menatap binar matamu disini, semoga kelak Allah pertemukan kita di Surga milikNYA.”
Kutinggalkan bayanganku perlahan…
“Aku akan pulang.”
“Dan pasti pun akan ‘pulang’ sepertimu….”
“Sampai jumpa di batas rinduku, kutitipkan Mawar ini untukmu di Surga..”
***


Comments

Popular Posts