New Chapter : Tentang Penantian dan Keikhlasan


Berhenti Padamu
Aku pernah mencari, kemudian hilang arah karena aku tak tahu langkah mana yang kutuju. Hanya terus melaju tanpa tahu sebenarnya apa yang menjadi alasanku.

Aku pernah mencari, tapi berkali-kali berujung dengan lengan-lengan yang memeluk diriku sendiri. Mendadak semuanya bagai sepi yang diam-diam menenggelamkan. Satu persatu pergi, dan aku mulai sadar bahwa mungkin aku sedang diuji dengan orang-orang yang tampak akan tinggal selamanya, tapi ternyata meninggalkan.

Aku pernah mencari, berlari pada semua yang terlihat baik. Kemudian sesal mendadak memenuhi ruang, seperti udara. Aku melupa, bahwa yang terlihat sempurna belum tentu dapat menerima kita. Aku terlalu banyak melewatkan. Lalu aku harus bagaimana?

Aku mengambil jeda. Mungkin selama ini aku yang terlalu sibuk bertanya pada matahari bulan bintang, pada cerminan laut lepas, pada teduhnya awan, pada birunya langit yang tak pernah membuatku sakit, pada pijar lampu di larut malam, pada keramaian kota, pada derap sepatu yang tak henti beradu, tapi aku tak pernah bertanya pada penciptanya.

Aku mengambil jeda. Karena kurasa aku sudah dipenuhi ambisi yang membuatku berjalan dengan terburu-buru. Mungkin selama ini aku terlalu fokus pada diriku sendiri, bukan pada apa yang sebenarnya kucari.

Aku mengambil jeda. Selama ini aku lupa, bahwa ada yang lebih berkuasa atas penemuan. Bahwa ada yang kehendaknya tak dapat dipatahkan. Bahwa jika kita melibatkan-Nya, kita akan jauh lebih tenang. Dan akhirnya aku berani mempertanyakan, baiknya apa yang kucari, Tuhan? Bagaimana seharusnya aku melangkah, Tuhan?

Rupanya kamu tidak kemana-mana, justru aku yang begitu. Rupanya kamu tidak pergi jauh, justru aku yang berputar-putar di tempat yang salah. Rupanya rumusnya demikian, ketika aku mencarimu langsung kepada Yang Menciptakanmu, aku dapat menemuimu.

Aku pernah mencari, kemudian berhenti.

Padamu.

(Sebuah tulisan dalam buku Menentukan Arah karya Mas Gun dan Mbak Afif)

Jujur tulisan ini menjadi tulisan yang menggugahku yang saat itu merasa sangat tidak menentu. Mempertanyakan takdir, gelisah membayangkan masa depan, menagih terwujudnya harapan-harapan. tentang karir, keluarga, bahkan kisah cinta.  Pada keadaan yang demikian, aku sangat bersyukur bahwa Allah SWT masih mengetuk pintu hatiku untuk sejenak mengambil ruang, berpikir dengan lebih jernih dan tenang. 

Setelah badai-badai hidupku berlalu, aku mencoba bangkit kembali. Saat itu aku sedang berusaha mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi, bahkan LoA Magister Kimia sudah ditanganku, tetapi aku belum memiliki kekuatan untuk melangkah. Aku tidak memiliki biaya, maka seketika aku harus mengubur dulu dalam-dalam harapan tentang ini. "Tidak sekarang, mungkin nanti" hiburku dalam hati

Beberapa pekan berlalu, aku berusaha menguatkan diriku sendiri, dan selalu berusaha mencoba terlihat tegar dihadapan kedua orang tuaku, dan meyakinkan bahwa dua atau lima tahun kedepan hidupku akan baik-baik saja dengan pekerjaan yang saat ini sedang kujalani. Aku kembali fokus pada pekerjaan. Setelah sebelumnya sempat mengajar selama kurang lebih satu tahun, kini aku mengambil jalan berkiprah di dunia sosial, menjadi seorang amil muda. Pekerjaan yang terkadang dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, tapi sungguh! aku menikmatinya. Pekerjaan ini yang kemudian aku cintai, dengan ini aku bisa lebih banyak mendekat kepada-Nya, aku bisa lebih banyak belajar ilmu agama setiap harinya, bisa lebih banyak berbagi, bisa lebih banyak membangun relasi demi kebaikan-kebaikan yang mengalir. Aku bahagia. 

Dalam keseharianku, sesekali tetap ada tanya, bagaimana selanjutnya hidupku lima atau sepuluh tahun kedepan, sedang aku punya begitu banyak mimpi-mimpi yang ingin kuwujudkan. Aku kali ini tersadar, bahwa aku harus bertanya pada yang memilikiku seutuhnya, pada Allah, Tuhanku yang menggengam hidup dan matiku. Aku berusaha berinteraksi lebih dekat dengan-Nya, menyusun setiap rencana dengan memohon izin kepadanya dan berharap bahwa rencanaku sesuai dengan rencana-Nya untukku.

Pada suatu ketika, tepat pada tanggal 05 Juli 2018 ketika itu, Aku meminta langsung kepada Allah SWT untuk memberiku petujuk apa yang harus kulakukan setelah ini agar aku lebih tenang menjalani hari-hariku, aku mentadaburi Al-Quran, kuniatkan dalam hati bahwa aku berkomunikasi dengan-Nya melalui ayat suci-Nya. Ketika itu kubuka Al-Quran, dan ayat apapun yang kubaca pertama kali saat membuka, kuyakini sebagai jawaban Allah atas kegelisahanku yang memohon petunjuk tentang apa yang harus kulakukan setelah ini.

Lalu Bismillah.. kubuka mataku, dan ayat yang pertama kali ku buka dan kubaca adalah ..
QS An Nur : 32 - 26
berikut kuabadikan momennya

Aku gemetar, seketika itu aku gemetar.. Ya Allah.. ini ayat tentang pernikahan, apa kemudian ini jawaban dari-Mu bahwa yang harus ku persiapkan setelah ini adalah...bersiap untuk menikah.

Aku meyakini, bahwa ketika aku kehilangan harapan dan rencana, Allah memiliki rencana yang lebih indah. Maka selanjutnya, aku terus menerus berdoa, jika memang iya, jalan yang harus kutempuh setelah ini adalah pernikahan, aku memohon untuk kemudian dimudahkan, diberikan jalan menujunya, dan tentu memohon agar hatiku dikuatkan-Nya, agar tekad dan niatku diteguhkan-Nya. Dengan bismillah.. aku mengadu dengan lirih kepada-Nya, aku berkata jujur..
"Aku ingin menikah ya Allah, dengan siapa aku tidak tahu, tapi Engkaulah yang Maha Tahu.. mudahkan jalan menujunya, dan beri hamba-Mu ini ilmu sebagai bekal menghadapinya.."

Comments

Popular Posts