New Chapter : Sebuah Pertemuan


Aku harus mengakui, bahwa Dialah Allah SWT...Tuhanku... yang telah membuatku tersipu-sipu, mengagumi-Nya, memuji Nama-Nya... kembali dengan lirih aku mengadu... 

"Allahu.. Engkau begitu Maha Romantisnya.."



Sabtu, 08 Juli 2018

untuk pertama kalinya aku berangkat ke Ibukota hanya demi menghadiri acara sahabatku yang dulu pernah tinggal bersama di asrama. Setelah dibujuk rayu oleh mereka, akhirnya Bismillah.. berniat untuk menyambung silaturahim, aku pergi dari Bandung meski sendiri. Balai Sudirman, saat itu kumasuki dengan rona bahagia, bertemu sahabat-sahabat, melepas rindu, menyaksikan kebahagiaan Sella dan Akbar yang saat itu melangsungkan resepsi pernikahan.

Saat melangkah menuju pelaminan, dari kejauhan aku melihat satu wajah yang tak asing bagiku (sempat kutahu) aku tetiba terhenyak sambil mencoba mengeja satu nama dan mengingat-ngingat siapa beliau. "Rupanya kakak itu jurusan Material juga.." dalam hati aku berkesimpulan sementara, karena kedua mempelai berasal dari Jurusan Material ITB. Ah! tak kuhiraukan, aku kembali berfokus pada acara, memerhatikan dekorasi gedungnya, menikmati jamuannya, memuji dan melihat mempelai wanita (sahabatku) yang kali itu terlihat sangat cantik.

Beberapa saat kemudian, aku berpapasan dengan sosok itu walau tidak secara langsung, aku sangat menyadari beliau ada disekitarku, seketika aku jadi tehenyak, dan kali ini ikut gemetar, kembali mengeja satu nama di ingatanku, tetapi tidak berani untuk menyapanya, takut ternyata salah menyebut nama, atau bahkan beliau justru tidak mengingatku. Aku cepat-cepat berlalu.

Keramaian mulai berkurang, kami (aku dan sahabat-sahabat) masih betah berada disana karena masih menikmati kerinduan berkumpul bersama. Ditengah-tengah aku bercengkrama bersama mereka, entah hanya perasaaku atau bagaimana, sungguh aku merasa seolah-olah ada yang memerhatikanku, lalu seketika saja kulirik...dan kemudian, kali ini pandanganku tak bisa bersembunyi. Kutangkap sepasang bola mata yang sedang melihat ke arahku. Aku refleks menganggukkan kepala dan tersenyum juga, menyampaikan isyaratku bahwa aku menghormati dan  memang mengenalinya. Tiga detik... kualihkan lagi pandanganku, kembali bersendagurau dengan sahabat-sahabat yang masih berada disampingku.

"Rupanya beliau yang memperhatikanku.." 

Kami beranjak dari acara pernikahan, dan memutuskan untuk berkeliling sebentar di Kota Tua, berbagi cerita, saling mengisi semangat untuk kembali bekerja. Saat itu tidak ada noted khusus tentang pertemuan dengan sesosok wajah itu, yang menjadi fokus adalah pertemuan dengan sahabat-sahabat.
Yaaa! Sore harinya, aku pulang meninggalkan Jakarta beserta semua kisah-kisahnya hari itu. Kisah yang tanpa kuduga sebelumnya.. ternyata justru menjadi awal cerita kisahku sendiri.... kisah kami (aku dan beliau) 😊



Comments

Popular Posts