New Chapter : Saling Berhenti

Aku harus mengakui, bahwa Dialah Allah SWT...Tuhanku... yang telah membuatku tersipu-sipu, mengagumi-Nya, memuji Nama-Nya... kembali dengan lirih aku mengadu... 
"Allahu.. Engkau begitu Maha Romantisnya.."


Masih tak menyangka bahwa dengan digerakannya aku oleh-Nya untuk pergi ke Ibukota, adalah langkah awal dari kisahku selanjutnya..

Juli 2018
Tidak begitu lama berselang dari hari pertemuan tanpa sengaja itu, aku mendapat sebuah pesan singkat dari nomor yang belum kukenal. Walau aku tak mengenali nomornya, aku mengenali siapa yang mengirim pesan itu dari foto profilenya. Lalu aku terhenyak lagi, dan lekas-lekas melihat nama pada profile tersebut. "Rupanya benar.." yaa..aku mengeja nama yang benar kemarin.

Satrio, nama yang kueja pada sebuah pertemuan itu. Satrio Fatigani Rihannur, beliau yang kemudian  hatinya tergerak untuk menghubungiku lewat pesan singkat itu.

Tidak banyak bertele-tele,  pertama kali beliau menghubungi adalah untuk memastikan bahwa benar aku adalah seorang Derin Nur'aini, mahasiswi Kimia 2013. Setelah kuiyakan pertanyaannya, "Ada yang bisa saya bantu, ka?" lama pesanku tak berbalas. Aku tak menghiraukannya, ku kira memang sedekar bertanya saja.

Lalu ia membalas pesanku dengan langsung mengutarakan maksud dan tujuannya, setelah sebelumnya bertanya bahwa aku telah ada yang meminang ataukah belum, tanpa kesana-kemari, tanpa basa-basi ia kemudian menyatakan dengan jelas tujuannya untuk dapat berproses denganku menuju pernikahan.

lagi-lagi aku seketika terhenyak, aku belum bisa membalas pertanyaannya. Aku justru lari kepada-Nya.. dan dengan lirih mengadu... "Ya Allah apa ini?"

Beberapa (banyak) pertanyaan yang kuajukan untuk dapat menilai dan menganalisis terlebih dahulu, karena saat ini aku benar-benar menyadari ini bukan hanya tentang sebuah perasaan, lebih banyak logika yang harus ditata. Setiap jawaban darinya kemudian meyakinkanku untuk dapat berkata "Jika memang benar niatmu baik, silakan langsung saja datang kepada orang tuaku."
Tidak ada harapan, tidak ada angan-angan, aku sungguh berusaha yang ada pada diriku hanyalah kepasrahan terhadapa takdir dari-Nya.
Sungguh tidak ada selain Allah SWT yang kemudian membuat kami saling bertemu, membuat ia mendekat kepadaku..

"Tuhan terserah pada-Mu, aku ikut mau-Mu, Tuhan.." Entah ia akan benar benar datang ke orang tuaku, atau kemarin hanya sekedar angin lalu.
Aku berusaha selalu berprasangka baik. Bahwa jika memang benar ia adalah takdirku, maka ia akan terus melangkah tanpa ragu.


Cimahi, 14 Juli 2018"Ya Allah, rasanya begitu cepat, apa ini mimpi atau bukan, apa benar terjadi atau aku sedang mengigau.."Hari itu aku mendapat kabar bahwa ia sedang dalam perjalan menuju Bandung, menyengaja datang kemari untuk menemuiku dan orang tuaku. Aku gemetar, dag dig dug rasanya. Hemmm.. bagaimana tidak, kami memang sempat saling mengetahui dahulu, ketika masa berkuliah kami berada dalam satu organisasi yang sama. Tetapi sungguh! kami hanya sebatas saling tahu, tidak pernah sebelumnya kami berinteraksi bahkan untuk sekedar mengobrol atau menanyakan nama (berkenalan secara langsung), faktanya selama empat tahun itu kami tidak pernah saling bicara.

Lalu hari itu, sesosok wajah yang kutemui seminggu sebelumnya, hendak benar-benar datang kerumahku, memperkenalkan dirinya padaku, memperkenalkan dirinya pada orang tuaku.

Cukup banyak hal yang kami bicarakan saat pertemuan itu. Ia tampak begitu ramah bercerita dan mendengarkan mamah dan bapaku. Setelah pertemuan itu, kutanyakan pendapat mamah dan bapa terhadapnya. Ternyata responnya sangat baik, mereka sangat terkesan dengannya. Di pertemuan yang pertama itu, aku harus mengakui keunggulannya, ia dapat memikat hati kedua orang tuaku. 
Setelah itu, masih banyak yang menjadi bahan pertimbanganku untuk melangkah selanjutnya, pun dengannya. Aku memberikan kebebasan kepadanya untuk menilaiku, menilai bagaimana keluargaku, berpikir dalam-dalam, apa memang ia mau dan bisa menerima bagaimana adanya keluargaku. Karena sungguh, bagiku keputusan untuk menuju pernikahan bukan tentang masalah perasaanku saja, bukan tentang kecocokanku dengannya saja, tetapi bagaimana ia bisa menyatu bersama keluargaku, nantinya.

Kami merenungi masing-masing, ku kabarkan padanya bahwa orang tuaku merespon dengan positif, Alhamdulillah.. salah satu faktor yang mendukung aku untuk melangkah lagi.

Waktu pun berlalu. Aku selalu memohon yang terbaik dari Allah SWT. Karena yang menggenggam hati setiap manusia hanyalah Dia. Aku tak tahu apa keputusannya setelah mengetahui dan mengenal keluargaku. Apa ia masih tetap akan melangkah tanpa ragu?

Cimahi, 17 Agustus 2018
beberapa hari sebelum hari Jum'at itu, ia mengabari bahwa insyaa Allah ingin mempertemukan aku dengan orang tuanya. Itu artinya ia mengambil keputusan untuk melanjutkan proses ini, pun denganku, karena akupun menerima tawarannya.
Kali pertama aku bertemu dengan Ibu dan Bapaknya, perasaanku tak bisa terjelaskan. Aku berusaha menempatkan diriku sewajarnya, bersikap senatural mungkin, menjadi diriku sendiri. Terlalu takut jika aku harus memikirnya tanggapan mereka atasku. Aku kemudian hanya bisa memasrahkan segala keputusan, segala perasaan, segala ketentuan kepada-Nya, pada Allah SWT yang lebih berkuasa atas segala sesuatu.

Prisip kami, jika kami memang ditakdirkan Allah berjodoh, maka semua jalan akan terbuka, menjadi mudah dan semoga berkah.. dengan tidak bertele-tele, tidak ada waktu yang sia-sia dan terbuang begitu saja.. semua akan berjalan dengan tepat, insyaa Allah..

Qadarullah.. pertemuan itu berlanjut pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Pada bulan September kupertemukan ia dengan keluargaku di Tasikmalaya, begitu juga aku yang dipertemukan dengan beberapa keluarganya di Bekasi. Semua atas izin-Nya, Alhamdulillah..

Cimahi, 21 Oktober 2018
hari ini menjadi hari yang Alhamdulillah, membahagiakan bagiku, baginya bagi keluarga kami. Kedua orang tua kami saling bertemu. Ia bersama ibu dan bapaknya kembali datang ke rumah, menemuiku juga mamah dan bapaku. Menyatakan kembali tujuannya dengan sejelas-jelasnya, bahwa.. Bismillah.. dengan memohon kekuatan dan Rahmat Allah.. Satrio bermaksud untuk mengkhitbah Derin, dan ingin melanjutkan proses ini hingga pernikahan dan seterusnya.

Rencana demi rencana kami susun bersama, dengan berharap bahwa rencana kami sesuai dengan rencana-Nya. Bismillah.. kami meniatkan untuk mengadakan acara lamaran pada bulan Desember 2018, agar niat baik kami pun diberi restu dan doa dari keluarga besar.

Tasikmalaya, 2 Desember 2018 
Bismillahirrahmanirrahiim.. 
Semoga Allah meridhoi niat kita esok.. Berangkatlah dengan tekad yang sempurna, Mas..
Melangkahlah dengan selalu menyertakan Allah SWT dalam setiap jengkalnya..
Khitbah terucap.. kemudian janji siap mengikat..
Insyaa Allah..
Aku menunggumu..

(Sepenggal pesan pada suratku untuknya, Jumuah 22 Rabiul Awal 1440 H)

Ahad, 24 Rabi'ul Awal 1440 H
hari itu, sekarang, dan seterusnya aku semakin bersyukur... Sungguh Allah begitu Maha Baik, telah mempertemukan aku denganmu...

***

Seorang Ksatria yang Insyaa Allah menjadi jalan pintu pembuka bagi keluarga, disertai angin yang bercahaya bertemu dengan Cahaya mata yang mendalam

Rihannur ~ Nur'aini
Cahaya bertemu cahaya
semoga lekas dipersatukan-Nya.

kembali teringat ayat yang kubuka pada tadabur Al Quran saat itu
pada QS An Nur ayat 35-36 tetang cahaya..

***

Ruh itu berjumpa dengan ruh...
tidak ada yang bisa menghalangi perjumpaan dua jiwa yang telah Allah tentukan hatinya berada dalam satu frekuensi yang sama.
Dua jiwa yang kemudian Allah gerakan untuk saling mendekat.
Dua jiwa yang Allah tetapkan menjadi anugerah satu sama lain.
Dua jiwa yang dipersatukan-Nya.

Aamiin Ya Allah..
Ya Rabbal 'Alamin..

***

Aku mengambil jeda. Selama ini aku lupa, bahwa ada yang lebih berkuasa atas penemuan. Bahwa ada yang kehendaknya tak dapat dipatahkan. Bahwa jika kita melibatkan-Nya, kita akan jauh lebih tenang. Dan akhirnya aku berani mempertanyakan, baiknya apa yang kucari, Tuhan? Bagaimana seharusnya aku melangkah, Tuhan?

Rupanya kamu tidak kemana-mana, justru aku yang begitu. Rupanya kamu tidak pergi jauh, justru aku yang berputar-putar di tempat yang salah. Rupanya rumusnya demikian, ketika aku mencarimu langsung kepada Yang Menciptakanmu,aku dapat menemuimu.

Aku pernah mencari, kemudian berhenti.

Padamu.

***


Kini aku sadari, aku tidak perlu lelah mencari, dan kau pun tidak perlu payah mencari.
Tetapi sungguh,
Dia lah yang membuat kita saling berhenti.
Saling membuka hati.



***

Comments

Popular Posts