Tentang Sebuah Pilihan
Cinta paling ikhlas adalah ketika kau sebut nama orang yang kau cintai dalam doa-doamu, disepertiga malam yang panjang, kau adukan hanya dengan Rabb-mu, nama yang kau cintai kau diskusikan dengan Pemilik-nya (Allah), tanpa dia tau. Sampai suatu ketika, dia justru tahu akibat doamu sampai di hatinya. Usahamu untuk ke lima kalinya barangkali, dan dua ditambah enam setengah tahun mungkin. Adakah yang lebih ikhlas dari sekedar menunggu cinta dan hatinya digerakan Rabb-mu?
Ketika doamu membawanya hadir, tetapi pada saat dimana kau belum bisa bergerak ke arahnya, masihkah cintamu seikhlas usaha-usahamu?
Kau ditanya kembali, akankah keikhlasan itu terus berkembang, walau untuk sebuah kata, merelakannya? Teruslah begitu sampai ia mengetahui lagi, bahwa ada hati yang sungguh-sungguh ikhlas dan setulus itu mencintainya.
Pesan dari setangkai mawar kuning darimu, di sudut kamarnya, pada suatu senja itu membuatnya terdiam dan menunggu pembuktian.
Apa kau sudah cukup membuktikan?
Tetapi sekali lagi, cinta memang tentang sebuah pilihan. Memperjuangkan, atau mengikhlaskan.
Comments
Post a Comment