Sepasang Bola Mata

Senja Bandung - dokumentasi pribadi

Sore hari, kala mentari siap mengantarmu pulang dengan payung jingganya, kamu lekas bergegas merapikan semua berkas hari ini. Tepat pukul lima sore, kamu keluar melewati pintu kaca itu, pintu ruang kerjamu. Tidak seperti biasanya, hari ini kamu enggan menghabiskan waktu lebih lama dengan tumpukan pekerjaan yang belum kunjung usai. "Biarlah lusa saja kuteruskan." gerutu hatimu. Lagi pula kamu sudah memiliki janji hari ini. Kau merogoh sakumu, memastikan selembar tiket kereta Jakarta - Bandung aman disimpan. Arah pulangmu hari ini tidak seperti biasa. Ojek online dengan tujuan Stasiun Gambir siap kau tumpangi.

Bandung, dan segala macam isinya adalah tempatmu bertumbuh. Tempat yang disetiap sudutnya menyemaikan benih-benih cinta. Walau bukan tempat asalmu, Bandung selalu menarikmu untuk kembali singgah padanya. Hari ini kau memiliki janji, mengunjungi kota kembang itu, menapak tilasi perjuanganmu selama empat tahun untuk memperoleh gelar sarjana.  Sebenarnya tujuanmu pergi ke kota itu lebih penting dibandingkan hanya mengenang ceritamu disana. Ya, tetap saja urusan pekerjaanmu di Ibukotalah yang memaksamu menemui client. Orang yang kali ini tidak lain adalah dosenmu sendiri. Kesempatan dalam kesempatan yang kau syukuri. Karena selain pekerjaan tuntas, kamu akan menikmati aroma jajanan depan kampus dan disapa dinginnya udara pagi Bandung yang sudah hampir empat tahun tidak kau hirup.

Argo Parahyangan melesat membawamu sampai disini. Perjalanan singkatmu ditemani senja sampai matahari tenggelam. Salman,  nama pertama yang terlintas dipikiranmu. Pelataran ternyaman buatmu itu memutar memoar rindu.  Kali ini taxi yang membawamu melintasi jalan Wastu Kencana hingga Ganeca. Sambil merebahkan tubuh yang terasa agak lelah,  kamu larak lirik,  sesekali tersenyum membayangkan berbagai kejadian yang sempat terjadi dulu. Jakarta-Bandung kan deket, tapi kenapa juga baru sekarang datang lagi kemari. Entah penyesalan atau bukan.

"Sudah sampai, Mas." lamunanmu dipecah pak supir.  Taxi yang kau tumpangi itu tepat berhenti di gerbang keluar masuk kendaraan. Dari arah berbeda,  aku terhenyak,  dan menghela nafas dalam-dalam.






***bersambung***

Comments

Popular Posts