Duka yang Tenggelam



Malam membawa dukaku tenggelam. 


"Jika aku tak percaya Tuhan, mungkin aku akan mati akibat tak bisa menahan perihku sendiri." Kalimat yang selalu perempuan itu ulang-ulang setiap kali ia mengingat bahwa kini dirinya masih dapat tersenyum menikmati indahnya hidup. Beberapa album yang berisi potretan kenangan itu, kini ia kemas rapi. Entah mau dibawa kemana, entah akan dimusnahkan seperti apa. 

Di tepian pantai, senja mengajak dirinya bercengkrama, meluapkan semua resah dan harap, menghitung setiap jengkal asa, mengukur dalamnya cinta dan perihnya luka. Senja membantunya kembali hidup, memutar rasa dengan logika. Perempuan itu, perempuan yang memiliki hati yang murni. Perempuan yang selalu bisa memaafkan, tetapi terkadang sulit melupakan. Perempuan yang perasaannya tak bisa dipaksa, yang hatinya tak bisa direka. 

Senja mengajak dirinya bercengkrama, menata kembali puing-puing mimpi. Menyusun ulang langkah. Senja selalu berbaik hati padanya. Pantas saja, ia selalu jatuh cinta pada senja. 
"Jika aku tak percaya Tuhan, mungkin aku akan mati akibat tak bisa menahan perihku sendiri." Sekali lagi ia mengulangi kalimat itu pada senjanya.

Senja yang semakin menggelayut seolah berkata padanya, "Biar kudengar semua ceritamu, biar kutelan semua keputusan pahit itu, rasa cinta , perbedaan, ketidakmengertian, kasih sayang yang bersemi, kenangan manis, ketulusan yang membekas, pengertian yang menajam, senyuman yang menukik, tangisan, resah, amarah, rindu, dan semua kegusaranmu, biar  malam kan membawa dukamu tenggelam, lalu esok pagi kan menerbitkan harapan untukmu, tersenyumlah!"

Semua keadaan akan semakin membaik seiring pemahamannya. Apa yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. 

Perempuan itu belajar membalut luka, merangkai kintsugi indah miliknya.

Perempuan itu sepertinya tidak lupa, bahwa bahkan Umar bin Khattab, seorang Sahabat Rasul-Nya berkata "Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.”

Perempuan itu pun mengerti.


Bandung, 2018 




Comments

Popular Posts