Ayah...

Ayah... Kulihat ada garis lelah di raut wajahmu, namun bias tersembunyi di balik rona bahagia.
Kulihat ada penat di sorot matamu, namun bias tersembunyi di balik binar-binar senyuman itu. 
Terlalu sakit rasanya untukku, melihat getirnya perjuanganmu... memenuhi seluruh inginku... memenuhi seluruh kebutuhanku... 

Ayah... Aku melihat genggam tanganmu semakin legam, legam terbakar matahari yang setiap hari panasnya menemani keingatmu, bercucuran, menganak sungai... Tapi kau masih kuat menggenggam besi-besi itu, yang semakin tua seiring usiamu. Kau masih kuat menggenggam roda kehidupan untukku berkendaraan menggapai cita dan asa.

Ayah... Putrimu kini beranjak dewasa... tapi maafkan ya Ayah... putrimu hanya selalu membuatmu berpikir keras, meguras keringat dan air mata untuk sekedar memenuhi harapanku. 

Ayah.. aku ingin lelahmu segera berganti, aku ingin penatmu segera berhenti... berjanjilah untuk melihatku membangun ummah, mnjadi orang yang bermanfaat, membubuhkan senyuman di sudut bibirmu. 

Ayah.. aku tak ingin kau memikul beban yang semakin berat.. akan kubuat senjamu damai, senja yang merona, hingga kubuat engkau dan bunda tersenyum bangga... 

Aku menyayangimu, Ayah... 

Menuju Asrama Kanayakan, 19 Juni 2013


Comments

Popular Posts