Surat Patah Hati
08
Mei 2011
Teruntuk
Sahabatku, yang sedang terbalut ambang kesedihan…
Sahabatku
tersayang…
“Cintailah sesuatu sederhana saja
karena ia tak selamanya, dan bencilah sesuatu sederhana saja karena ia pun tak
selamanya.”
Itu
hanya kutipan yang kudapat dari seseorang yang sangat luar biasa. Semoga dapat
menuntun hatimu yang mungkin sekarang sedang berkeping-keping. Ayo sama-sama
kita cermati. Kalimat itu begitu halus dan cukup dapat kita mengerti, bukan?
Ya…
sahabatku, rasa memang tercipta sebagai anugerah, namun bagaimana kita
menghadapinya, dan bagaimana kita dapat memanajemen hati untuk mengendalikan
rasa yang kita miliki. Janganlah menyiksa bathinmu dengan satu rasa itu. kau
terlalu tulus dan lembut jika harus merasakan sayatan pedang-pedang cinta.
Cobalah
untuk membuka hatimu… akan lebih tenang diri kita jika kita persembahkan cinta
dan kasih sayang yang teramat sangat itu untuk Sang Maha Pencipta cinta, yang
Maha Menggengam rasa.
Memang,
rasa yang kita miliki adalah fitrah kita sebagai manusia. Namun, ayo.. kita
pandai-pandai menilai… jangan sampai perasaan itu membawa kita pada
keterpurukan.
Sekali
lagi, sayangilah dirimu sendiri… jangan kau biarkan hatimu tersakiti… bebaskan
jiwa dan ragamu dari penjara rasa yang menyiksamu…
Allah
lah yang akan menyayangimu… mencintaimu sepenuhnya, mencintai kita semua… jika kita
pun mencitai-Nya penuh seluruh.
Jangan
pernah takut akan sebuah kehilangan… Insya Allah…
Jika
kita ikhlas, maka kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih indah kelak, yang
akan menebus dan menggantikan kesakitanmu hari ini…
Percayalah…
Allah…
The only one… :’)
Tiga tahun yang lalu, surat ini
benar-benar kukirimkan untuk sahabat yang nyaris tak memiliki energi akibat
larut dalam sebuah elegi perpisahan. Dan sekarang kutengok lagi catatan itu. Ya
Allah... amat terharu dan tersentuh saat membacanya. Harusnya kini aku yang mencermati surat yang
kubuat sendiri. Tentu saja,karena bagaimana mungkin aku bisa menguatkan sahabatku dulu jika aku sendiri tak bisa kuat.
When love is true, it waits....
Ingin kukatakan cinta pada Sang Pencipta Cinta
Ingin kudapatkan cinta dari Sang Penggengam Rasa
Diri ini, takkan tertuju... pada sinaran yang baru,
karena hanya cinta-Mu...
karena hanya cinta-Mu...
yang terbetik dalam kalbuku
Nada-nada syair itu... Hadiah hijau yang kusuka... lukisan senyuman yang abadi... Kisah cinta yang kugenggam... sepasang hijau dan cokelat ... dua helai kain anggun... petikan gitar yang lembut... suara merdu yang khas... surat cinta yang sarat makna... coretan-coretan pena... bacaan yang unik... satu hati yang merona... Ar Rahman yang aaaaaaamat kucinta...
Mereka diam! Bersamaku, benar-benar memaknai elegi perpisahan yang terbaik dari-Nya.

This comment has been removed by the author.
ReplyDelete