"Bumi Cinta" untukku..
Sebuah catatan hikmah perjalan yang melelahkan tapi membahagiakan..
Minggu, 6 Juli 2014
Minggu, 6 Juli 2014
Alhamdulillah.... Bumi Cinta kudekap dalam pelukan. Sebuah Novel pembangun jiwa karya Habiburrahman El Shirazy ada ditanganku. Aku sangat senang, menerima hadiah sederhana yang pasti akan berdampak luar biasa bagiku ini. "Sebagai peserta terbaik Training For Educator", ada yang menyebut namaku sesaat sebelum aku mendapat hadiah itu. Rasanya tak percaya. Sungguh, bukan karena apa-apa, tapi ini kejutan dariNya.
Ya... Allah selalu saja punya kejutan untuk hamba-hambaNya. Kejutan yang indah, yang membahagiakan.
Ketika seminggu yang lalu aku putuskan untuk turut pergi ke Kota Bekasi, sebenarnya aku tak tahu apa yang akan aku dapatkan. Entah mengapa, tiba-tiba ingin mengatakan bahwa aku siap ditugaskan ke sana. Tanpa terlalu mempermasalahkan kegiatan di Kampus yang sebenarnya telah lebih dulu mengambil tag dalam agendaku. Mungkin karena terlalu cinta, ya terlalu cinta pada Mesjid Salman yang selalu menjadi tempat ternyaman, saat semua hiruk pikuk dalam kampus riuh. Aku memilih untuk pergi.
Bebas saja kutentukan, karena aku tahu bahwa hidup adalah pilihan. Tentu, prioritas organisasiku di kampus adalah KARISMA, itu komitmen awal yang kuingat. Jadi, selayaknya aku dahulukan kepentingan itu. Tapi, pada dasarnya bukan hanya sekedar prioritas. Melainkan pertimbangan kebermanfaatan yang dapat kumaksimalkan ada dimana, itu yang kupilih.
Dua hari, tak cukup untuk bisa menerima materi pelatihan edukator yang amat banyak. Tapi setidaknya dua hari kemarin cukup untukku mendapatkan kesempatan emas mengenal para dokter muda, psikolog-psikolog hebat, mahasiswi keperawatan, dan banyak orang medis maupun nonmedis yang lain. Dan kusimpulkan, Inilah ukhwah, yang manisnya kurasa menenangkan. dan menyenangkan.
Disana aku banyak belajar, dari seorang dokter cantik bernama Kennia. Tentang remaja, moralitas bangsa, dan segala macam hal yang menjadi kewajiban kita menyelesaikannya. Sangat miris, tapi jika bukan kita yang mengkaji dan mencoba memperbaiki, siapa lagi yang akan peduli dengan bangsa ini selanjutnya?
dr. Kennia banyak bercerita tentang pengalamannya dulu ketika semasa kuliah hingga kemarin ia bisa berdiri dihadapan kami. Ia bercerita tentang susah senangnya merintis jalan dakwah dan mengupayakan penyelamatan moral remaja Indonesia di negeri Timur Tengah. Amat sulit katanya, tapi dengan ketulusan dan niat yang Lillah, Qatar sedikit demi sedikit tersentuh olehnya dan semua jadi mudah bisa berjalan dengan sangat baik.
menyimak pesan dan semangat yang disampaikannya, idealisme untuk membangun bangsa ini kembali muncul. keinginan untuk turut berpartisipasi altif dalam pembangunan moral remaja yang lebih baik kembali mengebu-gebu. Entah kenapa, aku ingin sekali Indonesia yang indah ini maju peradabannya. Maka kita memerlukan generasi baru yang unggul, generasi rabbani yang siap menghadapi masa depan.
Mulai dari hal yang kecil. Banyak yang ingin aku lakukan. Banyak yang sangat ingin kuusahakan. Karena aku ingin dan sedang membangun Bumi Cinta unttukku. Sampai titik terindah yang Allah berikan pada kita semua, aamiin
Comments
Post a Comment