Hari Penuh Cinta dariNya



#Mutiara Hikmah 2

“Jum’at ini datang lagi :D” Satu kalimat  kutulis di PM BBM-ku tadi pagi. Ya Alhamdulillah, jumat yang selalu kusuka kembali kuhirup udaranya. Dua SKS di kampus yang berakhir pukul 09.00 telah usai. Agenda mentoringku minggu ini juga menungguku menghampirinya. Penuh sekali list di pikiranku yang harus kutuntaskan hari ini.   Namun, yang terpenting adalah..  Salman yang juga selalu kucinta harus menjadi latar waktu Dhuha yang damai. Ah.. aku selalu rindu suasana menentramkan ini.
Aku dampai, di pelataran masjid yang teduh. Setelah sebelumnya kukunjungi perpustakaan megah dalam kampus. “Astagfirullahaladzim.. “ Aku memejamkan mata. Merenungi satu kejadian yang baru saja membawa air mataku jatuh.  Tadi, kartu mahasiswaku sempat hilang disana. Dan itu… ya, itu kusimpulkan sebagai wujud kasih sayangNya padaku. “Allah..” desisku pelan. Kau kusaksikan sebagai Sang Maha Pelindung.. Kau tak mungkin membiarkan aku tetap berada disana dalam keadaan yang tak kuharapkan. Sampai kujadikan itu sebagai alasan untuk beranjak dari hadapannya.
Usai Dhuha, aku kembali lagi ke kampus. Melewati pelangi diantara butiran air taman yang indah. Saking indahnya kutatapi itu sampai tak kulihat jalan langkahku. Aku terjatuh, dihadapan warna-warna merah jingga itu. Sakit.. ya, sakit rasanya. Tapi kemudian aku bisa bangun, tanpa ada yang memapahku sekalipun. Karena di tengah keramaian itu aku sendiri, melihat degradasi dispersi cahayanya dengan telik.
Tadi kuletakan mimpi bagai pelangi, indah … disana. Tiba-tiba aku terjatuh , dan Saat aku berdiri, aku sadar benar. Bahwa untuk mencapai indah itu aku mungkin harus terjatuh dulu, merasakan sakitnya dulu. Lalu ketika ada malu yang nyaris memenuhi pikiranku, kutepis.. sampai ternyata aku bisa bangun lagi.. walau sendiri. Karena, pada hakikatnya siapa yang mampu menggerakan tangan dan kaki ini?
Aku bisa tegak lagi, dan tetap tersenyum memandangi lengkungan manis itu. Indah bagai pelangi. Ya, itu mimpi yang harus kujama nanti..
Dua jam, kuisi dengan perbincangan yang tak ringan. Bersama sahabat-sahabat yang juga haus akan ilmu. Satu tema tentang urgensi ketuhanan tersaji dihadapan kami. Lagi-lagi.. sudut mata ini meyisakan air di kelopaknya. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku sering sekali menagis. Sampai-sampai teman satu rumahku bilang “Kerjaanmu memang setiap hari menangis!” ya.. aku tak peduli untuk hal ini. Biar saja aku dijuluki cengeng. Karena memang aku tak bisa menahan tangisan, menangisi diriku sendiri, Menangisi kerapuhan imanku, menagisi kekurangan ibadahku, menangisi kelalaianku, dan segala macam usangan dosa ini.
Waktu mempertemukanku dengan dzuhur.. lalu ashar.. aku seperti tertarik magnet dari tempat romantis itu. Ya.. kembali aku menyebrangi ganesha untuk sampai di tempat yang kucinta, Salman. Pukul 16.00, aku masih saja betah disana. Sementara handphoneku berdering-dering. Ada panggilan dari teman satu divisiku untuk panitia kampus day besok. “Harus segera ke kampus..” katanya. Baiklah, kuatur langkah tercepat menuju kesana. Tapi kemudian….
 Beberapa langkah dari masjid, aku terdiam. Mata ini tak berkedip, memandang dari kejauhan seorang ibu paruh baya yang hendak berjalan ke arahku. Dua keresek besar di tangannya itu, satu kotak makanan di dekapannya itu, cara berjalan itu, dan kaos kaki itu……
“Allah.. Bu.. Bu.. Bu Fatimah!” ingatanku seolah berputar, kembali menghadirkan sosok seorang ibu itu. aku terlalu lama menaruh pandangan kosong yang penuh pikiran ini. Sampai  wanita yang cara jalannya tak sempurna itu berlalu melaluiku. Aku tetap terdiam, masih bertanya “iya.. atau bukan..”. kurasakan sosoknya berlalu di belakangku, semakin jauh. Tapi tiba-tiba…
 “Neng…” Suara yang jelas kukenali itu memecah lamunanku. Kurasakan ada yang mendekat. Segera kubalik badanku, dan kulihat ibu itu tersenyum, menyeret kakinya, dan juga keresek besar di tangannya. “Ini.. ada jajanan ringan neng.. mau beli?” tanyanya masih sama seperti yang dulu.
“Ya bu.. coba saya lihat..” aku menengok apa yang ada di kereseknya.
“Bu.. apa ibu masih ingat aku..?” tanyaku dalam hati.
“Bu, ibu dari mana..?” aku Kenan bertanya.
“Dari purwakarta neng…” masih jawaban yang sama dengan dulu.
“Ibu jualan ini, masih banyak.. ayo beli ya neng” ibu itu berharap.
Ya bu, aku pasti beli ini. dompetku kupastikan ada di tas, tak seperti dulu. Sekarang uangku lebih dari sekedar uang bergambar pangeran antasari.
“Sebentar ya bu, ibu mau tunggu?” … aku hendak beli sesuatu dulu.
Ibu itu tersenyum, “iya neng..”
Lima menit aku kembali, dan memberikan sesuatu itu padanya, lalu kubeli pula barang dagangannya.
“Bu.. ngga jualan di DT?” tanyaku ingin mengingatkan.
“takut orang-orang disana bosen neng..” jawabnya lirih. Aku diam lagi, dan berusaha mencari celah untuk membuatnya mengingatku.
“Bu.. jualan ibu masih banyak, saya ingin bantu,tapi…”
Belum sempat aku selesai memberi alasan, ia menyahut .. “Neng.. kayaknya ibu pernah juga ketemu eneng di DT ya.. neng, sama temen-temen eneng itu…”
Sepertinya Bu Fatimah ini mulai ingat. Aku tersenyum, sekaligus ingin menangis. Ya, kalau terjatuh lagi air mataku, berarti ini untuk yang ketiga kalinya hari ini. kutahan-tahan dihadapannya.
“Neng sekarang udah kuliah neng? Ibu senang sekali..” ia bertanya dengan begitu antusias.
“Iya.. Bu..” aku tersenyum dengan nanar.
“Diseberang itu ya neng ya??”
“Ummh.. iya bu.. Bu,, terimaksih ibu sudah mendoakan kami dulu..” kalimah itu terlalu sederhana untuk mengungkap rasa terimakasih padanya. Tapi aku seperti kehabisan kata. Seandainya aku bisa, aku mungkin akan mengatakan apa yang aku pikirkan ini.
“Iya bu.. sekarang aku sudah kuliah, aku berhasil masuk disini bu.. mencapai satu cita-citaku dulu yang ibu juga sempat tahu. Ganesha ini.. ya ganesha ini. doamu juga turut mengantarku, mengantar teman-temanku.. sekarang mereka ada yang hendak jadi perawat, ada yang hendak jadi konsultan, dan banyak lagi bu.. terimakasih.. kami banyak belajar dari semangatmu..”
Rasanya ingin memeluk erat-erat sosok yang sedang ada dihadapanku ini. Tapi, ketika aku ingin berlama-lama bicara dengannya. Dering hpku kembali memanggil-manggil. Tidaaak.. aku harus segera lari ke kampus! Ya..
Aku pamit dari hadapannya. Walau sebenarnya berat sekali. Aku ingin membantunya menghabiskan barang dagangannya itu, tapi tak ada celah waktu yang mentoleransiku lagi.
“Bu.. saya harus pergi ke kampus.. maaf tak bisa bantu ibu..”
Ibu itu tersenyum. “Iya neng, mangga”
“Doakan kuliah kami lancar bu,,”
Pintaku padanya sebelum meinggalkannya di sekitar masjid itu. langkahku rasanya tertahan, tapi apa boleh buat. Aku tak menyangka akan bertemu lagi dengan sosoknya yang sangat luar biasa. Masih dengan semangat hidup yang menggebu, dengan keikhlasan menjalani takdir dan ujian, bersabar dengan kesakitan yang dirasakannya, kerja keras untuk bisa bertahan.
Semua itu kembali menghentakku. Bahwa tak sepantasnya ada keluhan! Tak sepantasnya!! Senja masih mengintip langkahku.. dan aku bisa mengatakkan.. bahwa..
“Tidak ada sesuatu apapun yang terjadi dan berlalu tanpa hikmah.. maka, mulailah untuk belajar menjadi seseorang yang peka terhadap hikmah.. ya,, hikmah hidup.. yang senantiasa akan mengajari kita untuk menjadi lebih baik.. terus menjadi lebih baik.. :))

Jumat yang penuh cinta dan hikmah dariNya.. :)

Comments

Popular Posts