Menemukan Kekuatan dari Rasa Sakit

Tengah malam, bahkan nyaris menjumpai waktu sepertiga malam tadi aku masih terjaga bersama seorang sahabat disampingku. Kami berdua berbaring berdampingan, memandangi langit-langit kamar yang gelap.

aku menghela nafas dalam-dalam, terpejam dan menyembunyikan sesuatu yang nyaris jatuh dari sudutnya, air mata.
membayangkan sebuah kejadian yang kualami beberapa hari yang lalu.

"Kecelakaan pagi itu...
Aku tak pernah tau, kapan kematian akan menghampiriku... dengan cara seperti apa, dan dalam kondisi bagaimana... Andai waktu itu adalah waktu terakhirku, aku tak tahu... bekal apa yang akan kubawa pulang menemui-Nya. Tapi sungguh, DIA Maha Baik, amat baik... Harus selalu kuucap syukur atas kesempatan yang sampai saat ini masih DIA berikan padaku.

satu malam menjelang pagi itu, aku benar-benar sedang dalam keadaan kalut. Merenungi diriku sendiri yang semakin tak menentu. Aku sedang merasa lelah, aku sedang merasa gundah, aku sedang merasa begitu jauh dari titik keimanan. Aku memikirkan tentang masa lalu, tentang semua yang telah menjadi perjalanan hidupku. Tentang ujian, cobaan, kebahagiaan, semua, semua menjadi sebuah pikiran seperti benang-benang kusut yang bergulung di benakku.

Aku takut.
Malam itu aku takut.
Mengingat diri yang penuh lumuran dosa, amanah yang tak kuemban dengan baik, sikap yang tak layak, ucapan yang menyakitkan, janji yang tak sempat ditepati, waktu yang kusia-siakan, nikmat yang kuingkari, banyak.. banyak.. banyak sekali perkara-perkara yang kusadari menjadi isi buku catatan dosaku...
Allahu...
Rindu pastilah bertemu, aku Rindu pada-Mu, tapi aku tak tahu malu.. dengan begitu banyak dosa yang kuperbuat, bagaimana aku bisa pulang kepada-Mu tanpa bekal amal yang cukup, bekal amal yang mungkin terhapus kesalahan dan kekhilafan.
Aku malu...
Aku takut...

malam kuhabiskan dengan menumpahkan air mata, tanpa sadar aku terlelap hingga pagi.

pikiranku malam itu masih tersisa di paginya,
tapi ada sebuah rutinitas yang membuatku harus beranjak meninggalkan rumah, Kuliah.
Aku berangkat, setengah jam sebelum pintu Laboratorium tertutup rapat-rapat.

di tengah perjalanan...
Hantaman keras membuatku terhempas...
sepersekian detik saja rasanya aku tak bisa menahan lagi stang motor yang kukendarai sendiri.
keadaan dan pikiranku ketika itu menjadi sangat kalut, lebih kalut dari sekedar sebuah malam yang sebelumnya kulewati.
Dalam hitungan detik, terlintas banyak hal dipikiranku..
"Apa yang terjadi ini Ya Allah? aku kenapa? inikah waktunya? Inikah caranya? Allah.. Allah.. Allah..."
masih dalam hitungan detik yang begitu cepat berlalu, aku benar-benar tak bisa mengendalikan lagi kendaraanku,
tanganku lepas dengan sendirinya, aku benar-benar terjatuh dari sepeda motor yang kukendarai.

tiba-tiba, pandangan mataku menjadi buram, kunang-kunang. Aku merasakan debaran jantung yang begitu hebat, dan tarikan nafas yang begitu dalam, sesak. Tangan kananku gemetar, ya masih dalam kesadaran kurasakan tangan kananku begitu gemetar.
Aku tahu seketika itu pula orang-orang mengerumuniku, dengan berbagi macam pertanyaan yang tak bisa kucerna. "Namanya siapa? rumah dimana? mau berangakat kemana?" ya pertanyaan-pertanyaan itu tak terjawab, aku melemah... aku hanya berusaha mendekapkan tangan kananku ke dada, dan merasakan sesuatu yang saat itu amat mendera, Sakit.

Semakin sakit, dalam pikiranku... masih terniangan-niang renungan malam itu. Aku menahan isak tangis,
"Allah... ampuni aku."
kalimat sederhana itu kuulang-ulang, begitu takutnya aku.. begitu takutnya aku...

Aku pulang, diantar lelaki paruh baya yang tadi kendaraannya berbenturan denganku.

Depan rumah, aku disambut wajah pucat pasi, ibuku panik melihat aku yang kembali pulang dengan mata  yang berkaca.
orang-orang begitu riuh, mempertanyakan aku kenapa.

Aku memeluk ibu.. memeluknya erat dengan sebelah tanganku..
menumpahkan segala rasaku saat itu, rasa takut, rasa kalut, rasa kaget, rasa sakit. Ya, Sakit.



Kejadian yang berlalu begitu cepat itu tak pernah kusangka sebelumnya..

"Demi Dzat Yang Maha Menggenggam kehidupan, ‘Jadilah, maka Jadilah’ . Tak ada yang dapat mengelak takdir-Nya. Aku tak tahu, mana yang akan mendahului.. kematian atau buah pengharapan. Selasa pagi itu… sungguh aku bersyukur, DIA melindungiku dari perkara pertama, dan menyelamatkanku dari kejadian mengerikan itu. Hebat-Nya.. aku tetap dilindungi dalam dekapan kasih sayang… Allahu, ini aku.. yang sedang belajar menemukan hikmah dan kekuatan dari segores takdir yang Kau berikan."


Rentetan hikmah yang begitu banyak berserakan harus kupunguti satu persatu,
Musibah datang pada kita bisa dalam bentuk ujian, teguran, ataupun hukuman.

ya.. Ujian, Rasa sakit yang terasa bisa jadi adalah ujian yang akan membuat diri lebih meningkat derajatnya di sisi Allah, bila sabar yang menjadi pilihan dalam menghadapinya. ujian yang akan membuat diri semakin kuat, semakin tegar dan semakin peka dengan pelajaran kehidupan yang Tuhan ajarkan langsung kepada hambanya.

Teguran, Sekilas kejadian yang sempat membuat terhenyak itu bisa jadi adalah cara-Nya mengingatkan, untuk lebih bersyukur atas nikmat sehat, nikmat waktu yang luang, untuk lebih merenungi sikap, hubungan dengan orang lain, dan banyak hal lain yang memang seharusnya menjadi bahan untuk selalu intropeksi diri.

Hukuman, "Ya Allah..Ya Ghofuru Rahiim.." Ampuni hamba..
Ampuni Ya Rabb.. ampuni..

---

"Roda kehidupan ini berputar, setiap orang memiliki ceritanya masing-masing. Pun denganmu, aku menyaksikan beberapa duka dan air matamu. Kamu kuat.. Kamu hebat.. Sabar ya, Semoga menjadi penggugur dosa." Kata sahabat menguatkanku..


Tentu saja....
"Aku menemukan kekuatan ini ketika belajar untuk sembuh dari rasa sakit :')"


Wallahualambisawab..

*kusampaikn permintaan maafku untuk semua yang kukenali, semua yang pernah tersakiti,maaf atas kesalahan yang disadari ataupun tidak

Semoga kita semua senantiasa berada dalam lindungan-Nya.
Semoga kita semua senantiasa dapat mengambil hikmah dan pelajaran hidup.
 
-- D. Nur'aini

Comments

Popular Posts