Catatan Tahun 2011



11 Tahun Yang Lalu ..
Usang dan debu masih menjadi pemandanganku malam itu, malam yang lirih.. berselimut sunyi berteman sepi yang semakin menjadi-jadi. di atas telapak tanganku, kupandangi selembar kertas yang helaiannya tak lengkap termakan rayap. Indah memang, adanya menjadi kenangan.. 

Di atasnya, kulihat dua senyuman nampak menghiasi potret sosok mungil yang ikhlas dan damai. Dengan penuh binar kasih sayang  potret kakak beradik saling bergandengan tangan, berada dalam hangatnya dekap rangkulan.. berpeluk mesra cukuplah menggambarkan eratnya persaudaraan, indah .. damai … tenteram … 

Tapi, benda yang sejak tadi kupandangi ini benda yang cukup tua!!!!! Yang masih kutatapi ini benda yang nyaris lapuk …!! Wujudnya berhias noda-noda.. degradasi warnanya kini tak lagi menawan.. sayang namun…
Meski termakan waktu, dibalik keusangan senyuman-senyuman itu terlukis simpul kisah indah. “11 tahun yang lalu” …Saat dua sosok si kecil mungil dalam potret itu berlari berkejaran, saling mengejek dalam tawa, bernyanyi bersahutan, menari-nari, belajar menulis dan membaca, membicarakan cita-cita, dan masih banyak lagi. Agaknya begitu terasa kehangatan di dalam keseharian.

Selisih umur mereka yang 6 tahun cukup terlampau jauh, membuat posisi sang kakak telah mampu melindungi adiknya. Begitu nyaman rasanya berada dalam dekapan dan kasih sayang seorang kakak.
Dulu, dua insan kecil yang manis ini mengucap kata, mendeklarasikan sebuah janji. Walau ketika itu umur mereka masih sangatlah muda, bahkan si adik masih meyandang status balita, namun mereka mengerti akan arti sebuah kasih sayang. 

“De..aku akan menjagamu, sekarang dan nanti ketika kau telah besar dan dewasa..mmh, kalu kau nanti mulai masuk sekolah, aku antar kau ke sekolahmu yah, biar orang-orang tau kalau adikku yang cantik ini punya kakak yang akan selalu melindunginya.” Si kakak berbicara seperti itu kepada adiknya, wajar lah sesuai bahasa anak-anak yang ceritanya baru diajarkan puitis oleh guru di sekolah dasarnya.. ketika itu usianya hampir 11 tahun. Namun, di usia sekian ia telah mampu menunjukan kasih sayangnya, layaknya orang dewasa ..

“Asikkk, janji ya!! Kakak baik, guantenggg …. :D nanti biar kita ga usah repotin mama papa yah,” bayangkan.. si kecil cantik berumur kurang dari 5 tahun menyahut perkataan kakaknya dengan suara yang mungil, betapa riangnya ia. 

Mereka terikat janji yang mulia, semoga janjinya kan tetap terpatri kuat dalam benak dan ingatan mereka ..
Waktu tak mungkin terhenti, berjalan dan terus berjalan .. seiringnya .. mereka mulai beranjak remaja, lalu dewasa… bak kuncup-kuncup bunga yang mulai kan merekah indah. 

Ternyata benar saja apa yang telah terucap si kakak kepada adiknya itu, ketika sang adik duduk di bangku sekolah dasar, menjadi rutinitas setiap hari jika sang kakak mengantar dan menjemput adiknya ke sekolah. Terlebih, jarak tempuh antara rumah dan sekolah mereka tidaklah dekat, mama dan papa nya pun menyerahkan tanggung jawab atas putrinya kepada sang kakak yang saat itu telah menyandang status pelajar SMA dan telah dianggap dewasa.

Tentu waktu yang sering mereka lewati bersama bukan waktu yang berlalu secepat kilat, cukup lama bukan? Selama itu pula kasih sayang dan eratnya persauadaraan semakin terasa. Mungkin mereka masih lah sangat ingat dengan janji yang pernah mereka deklarasikan .. hingga semakin terasa pula indahnya kebersamaan dalam balutan cinta dan kasih sayang antara sang kakak dan sang adik saat itu. 

Layaknya kuncup-kuncup bunga, semakin hari kan semakin merekah indah .. begitu pula dengan mereka.. 
jejang pendidikan yang mereka tempuh kan semakin tinggi pula, jika mereka adalah kepompong yang ingin segera menjadi kupu-kupu, maka mereka yang dulu kecil mungil kini mulai beranjak dan terus berusaha beranjak dari cangkangnya. Apalagi sang kakak yang memasuki masa transisi, masa-masa akhir SMA yang benar sedang mencari jati diri.  

Ketika si adik mulai menduduki bangku SMP dan kakaknya meninggalkan bangku SMA, intensitas kebersamaan mereka yang dulu terbilang sangat dekat dan erat mulai berkurang. Mungkin lantaran sekolah si adik tak terlalu jauh dari rumah, jadi tak perlu lagi diantar-antar kakaknya, lagi pula anak seumuran SMP dinilai sudah mampu menjaga diri sendiri. Putri kecil yang manis itu memang termasuk anak yang mandiri, jadi tak ada khawatir yang kakaknya rasakan walau ia tak lagi menemani adiknya.

Boleh dibilang sejak itu mereka lebih sering melewati waktunya masing-masing, bahkan lebih sibuk dengan urusan sekolah dan teman-temannya. Mereka tak lagi sering bersama melewati jalan-jalan tengah kota dengan roda dua, tak lagi sering bersama merasakan panasnya terik matahari dan hujan yang mengguyur mengigilkan sekujur tubuh.. seperti yang lalu-lalu. Tiada lagi kisah romantika kasih sayang itu yang terulang.

Senja berulang kali berganti, mega lalu lalang berlalu.. si cantik mungil yang ada di potret ini sekarang telah menjadi gadis ayu, dua kuciran lucu yang khas di rambutnya dulu sekarang berganti menjadi juntaian jilbab yang menyembunyikan uraian mahkota terindahnya. Sang kakak mungkin tak terlalu mengetahui tentang perubahan pada diri adiknya, ia semakin sibuk dengan dunia barunya. 

“Kak.. taukah kau bahwa jiwa yang layu ini diamuk rindu yang mendalam? Nostalgia keterniangan membalut kehampaanku kini, bukankah dulu kau yang mengajariku merangkai kata demi terciptanya sebuah syair yang sarat makna.. walau diriku masih sangat mungil ketika itu, tapi aku ingat sampai detik ini.. kau tau? Aku sekarang sudah dapat mengukir kata-kata dalam kanvas puisi… sempatkah kau tengok beberapa karya yang kuciptakan untukmu? Kuharap iya, agar kau tau artimu dalam hidupku … “

Comments

Popular Posts