Dibalik Tirai Putih (Full version of 'Menunggu Berlalu')



Dibalik Tirai Putih
Bukan yang pertama kali kupandangi tetesan infus itu. Rasanya ingin berteriak seraya mengeluarkan air mata yang lama tertahan disudut kelopaknya. Melihatnya terbaring lemah tanpa suara, membuat perasaanku pun ikut melemah. Aku terlalu takut kehilangannya, sampai-sampai aku tak berani melepas jemari dari genggamanya.
Dia.. seorang wanita yang kusebut lembut mamah, sudah lama mengidap penyakit yang kini menyerangnya lagi. Mungkin selama umurku hidup bersamanya, selama itu pula sakit yang ia rasa datang dan pergi.
Rasanya baru saja Jumat kemarin ia buatkan segelas susu hangat untukku, dengan penuh cinta ia menyuruhku meminumnya. Sambil membenarkan letak leherku yang kaku di pembaringan. Aku tak cepat mendengar. Kubiarkan air itu sampai dingin kembali. "Tunggu mah masih gak enak." Kataku mencari alasan. tapi dia memaksaku dengan sabar. Dan sekarang aku yang merasakan bagaimana khawatir dan rasa takut ini hadir ketika melihat orang yang paling dicintai terkulai lemah tak berdaya.
“Mamah ayo minum teh hangat nya!!” ia hanya mengangguk.
“Mah sedikit saja” Bahkan tak merespon permintaanku.
“Mamah.. Mamah denger teteh kan, Mah??” aku semakin gemetar.. melihat raut wajah nya yang semakin pasi. Mamah memanggilku teteh, sejak lahir seorang bayi mungil bernama Muhammad Ibnu Sabiyan tahun 2006 lalu. Kelahiran adikku mengakhiri statusku sebagai anak bungsu. Tapi tak pernah mengakhiri kasih sayang mamah untukku.
“Allah...” desisnya pelan.
Aku tak tahu lagi, apa ia mendengarku memintanya meminum teh manis yang kubuat ini, atau tidak. Tanganku sesekali mengambil lembaran tisu. Mengusap wajahnyanya pelan yang kuyup oleh keringat dingin. Aku mengerti, keringat ini bukti bahwa ia menahan sakit yang begitu hebat.
“Mamah kuat.. mamah sembuh ya mah…teteh sayang mamah ..”  kulihat air mata meyudut menjatuhi pipinya. Mamah mendengarku, pasti mamah mendengar ucapanku.
Demi Engkau Rabb.. aku tak kuat lagi melihatnya menangis.. aku pun sudah banyak mengundang air matanya Rabb.. jangan kau uji ia dengan apa yang tak mampu ia hadapi..” Ruangan ini semakin bergeming, hanya angin yang menyaksikanku menangis kecil.
Air mata kuhantar dengan satu perasaan, perasaan yang tak mampu lagi kudeklarasikan. Aku begitu menyanyanginya.. aku tak mau melihatnya kesakitan ! aku tak mauuu..!! dari dulu sampai sekarang entah seberapa banyak tusukan jarum yang pernah ia  rasakan. Menembus kulitnya yang halus, mengalirkan cairan infus ke sela-sela nadinya.
Waktu aku masih kecil, aku tak begitu mengerti. Berada di rumah sakit sama sepeti berada di rumah. Bisa main dan lari-lari kecil bahkan bisa nonton tv lalu lihat kartun kesayangan. Tahun 2000 silam itu kembali terbayang dalam ingatanku. Aku yang waktu itu masih berumur lima tahun bersikap polos. Kubuat minuman hangat untk mamah, yang sebenarnya aku tak mengerti itu manis atau pahit.
“Mamah cepet sembuh ya.. biar bisa anter Dein ke sekolah..”  kata-kata itu mengalir, seraya kutarik senyuman termanis buat bundaku itu. Padahal saat itu sedang ku genggam tanggannya yang tak berdaya. Menunggu ia siuman setelah operasi usai rasanya seperti… menantikan ia kembali hidup, dan takut…..
Masa itu aku masih terlihat riang. Kuciran yang terikat di rambutku naik turun saat aku berlarian kecil di halaman rumah sakit. Walaupun ku sadar, sebenarnya aku sangat khawatir, tapi kepolosanku menutupi rasa takutku.
Detik ini.. latar tempat yang menjadi tema perjuangan mamah kunikmati suasananya.. Ruang yang serba putih ini, bau obat di sana-sini. Sayang, aku tak lagi bisa menyembunyikan nada takutku dengan senyum dan berlari lari kecil.  aku tak lagi bisa berbicara seringan itu, aku tak bisa lagi menyuguhkan wajah riangku.
Lemah.. lemahnya semakin bertambah-tambah.. aaahhh, saat ini aku semakin  rindu candanya .. “mah ayo sembuh mah ayoaku ingin memaksanya.. Ia mungkin merasakan apa yang aku rasakan. Matanya pelan pelan terbuka ..
 tehh.. udah makan? udah makan obat?”
Kepalaku yang sejak tadi menempel dekat pundaknya terangkat, Masya allah mah... dirimu sedang terbaring sakit pun apa yang kau tanyakan ketika kau bangun? kau tanyakan aku.. mamah aku baik baik saja sekarang.. dirimu yang harus cepat sembuh. Aku ini sehat aku ini kuat jika melihatmu kuat.
            Kujawab pertanyaan ringannya. Kuiyakan saja, karena tak mungkin membuatnya khawatir sedang ia pun dalam kondisi terbaring lemah. Mulianya seorang ibu, ketika ia sakit pun yang dipikirkannya adalah kesehatan anaknnya. Allah... aku tak sanggup menahan air mata ini.. tapi jangan jatuhkan di hadapan ibuku.. kutahan-tahan jatuhan air mata ini, sampai tak bisa lagi kubendung. Aku pergi sejenak, memalingkan wajah resahku atas kesembuhannya.
Satu.. dua.. tiga malam berlalu ..kunikmati suasana rumah sakit yang selalu senyap ini.. sudah lebih dari seminggu labu-labu itu bergantian mengalirkan cairan infus ke tubuh mamah. Rasanya lelah, menantikan ucapan dokter untuk menyuruh mamah pulang. Tapi saat kuingat lagi, rasanya sedikitpun aku tak harus menggubris lelahku. pasti mamah lebih lelah mengurusiku selama ini..selama 18 tahun ini. Pikiran itu tiba-tiba melayang.
Hari ini kembali kutemui Jumat yang selalu kusuka. Selepas Ashar kulantunkan surah Al-Kahfi di dekat mamah, tadi malam aku tak sempat membacanya. Sejak kemarin, mamah selalu memintaku mengaji, dan tersenyum mendengar ayat-ayat itu kualun merdu. Mamah menangis, menyimak ayat-ayat yang paling kusuka pun kulantunkan,.. “Ar- Rahman.. ‘Allamal quran..”
Seandainya ia tahu bahwa aku ingin sekali ayat-ayat yang ada di surat cinta yang kugenggam ini kuhafal. Sebagian Arrahman kuucap tanpa mushaf.. aku ingin tak sekedar Arrahman. Agar kelak bisa kupakaikan jubah emas padanya di Surga.
Kuaminkan sendiri harapan yang kuindahkan ba’da ashar ini.
Handphoneku bergetar. Ada SMS, Za.
“Dei, belajarmu sudah sampai mana?”
Aku baru sadar hari ini Jumat, yang berarti besok aku harus hadapi ujian di kampusku. Ya, kampus unik, yang membiarkan mahasiswanya tak menikmati setiap weekend. Tapi Ganesha itu pilihanku, untuk apa kusesali. Lagi pula, itu salah satu yang bisa membuat mamah bangga padaku, tentu saja.
“Aku belum belajar sama sekali Za, masih di rumah sakit, dan mungkin akan sampai larut disini, biar saja.. semoga aku bisa mengerjakan soal-soal itu dengan mudah.. aamiin”
Kukirim balasan itu segera, dan saat itu juga sampai pada Za. Takut, tapi sudahlah..
Kumanipulasi wajah dihadapan mamah, mencoba menyiratkan kesedihan dalam-dalam. Bukan kesedihan karena takut menghadapi ujian besok, melainkan terbayang nasihat-nasihat sayang yang tak henti dia berikan. Jika mamah sudah memulai perkataannya terkait hal-hal yang tak kuharapkan, aku seolah tak ingin mendengar.
Tidak, kau akan baik-baik saja, tak perlu kau titipkan adik, kakak, dan ayah padaku. Kau akan sembuh.. sebentar lagi.. sebentar lagi mah.. sebentar lagi..
Sampai kapan tempat bertirai putih ini menjadi latar dari nasihat-nasihatnya? Rabb.. kuingin sedikit mamaksaMu untuk mnyembuhkan bundaku. Tapi ada yang pelan-pelan membuatku sadar. Bahwa ini harus kusyukuri sebagai kasih sayangMu pada kami.
Bila aku dan bundaku masih harus melewati baris waktu yang cukup lama untuk menikmati sakit ini, jadikan sebagai penawar dosa kami Rabb..  aku yakin atas penjagaanMu wahai Allah... kupohonkan yang terbaik.. segala yang terbaik..
Kuatkan aku..kuatkan bundaku.. kuatkan ayahku.. kuatkan adikku Rabb.
***
“Teteh tau kamu kangen mamah de.. sabar ya..”
Adikku yang baru duduk di bangku kelas 1 SD harus berusaha menjadi anak kecil yang super mandiri. Pergi.. dan pulang sekolah tanpa antar jemput, makan siang.. malam.. sendiri.. mengerjakan PRnya sendiri.. mandi.. main.. semua tanpa pengawasan mamah. Mungkin sama seperti aku dulu. Tapi Ahhh... aku lebih haru melihat sosok kecil yang tegar itu. Ketika suara adzan magrib berkumandang dan gelap pelan-pelan menyelimuti petang. Kuhentikan ia dari permainannya.
“Ayo kita shalat dulu!!” Ajakku padanya.
dengan gesit ia segera ambil wudlunya, lalu sujud ruku dan berdiri bersama sama-denganku. Selepas salam, kulihat tangan mungilnya menengadah..
Allah... aku tak kuat melihatnya berkaca dalam pelukkan doa padaMu..  Lucunya, kenapa seorang kakak terkesan lebih lemah dari adiknya, kaka macam apa aku ini?
Tangannya yang menengadah ia usap ke wajah,  melihatku ia tersenyum
“Teh ko mamah lama di rumah sakitnya? dede pengen kesana.. tapi ..” ia terlilhat berpikir.
“Tapia apa?” kutanya lagi.
“Tapi ngga mau kalau cuma lihat dari bawah, pengen meluk mamah..” suaranya lirih.
Aku segera memeluknya, mendekapnya erat-erat, Kupejamkan mata ini kuat-kuat, tapi tetap saja airnya menetes membasahi mukena yang masih kupakai. Aku terbayang, memang jika adik kecilku yang manis ini datang kerumah sakit, ia tak bisa merengkuh jemari mamah. Hanya menengadah dari lobby. Melihat ke lantai tiga sana yang nyaris 90 derajat mematahkan lehernya. Dan dibalik jendela sana ada mamah, yang tersenyum dan melambaikan tangan dengan halus.
Mamah hanya bisa melihatnya dari kejauhan, pandangannya mungkin buram karena matanya tak lagi sejernih dulu, ia hanya menangkap bayangan anak bandel yang pintar ini berlarian kecil. Sama seperti aku dulu, yang masih bisa menampakkan wajah riangku saat menjenguk mamah.
Dan aku tahu persis yang dirasakan adikku ini, karena akupun dulu merasakannya. Bahkan masih terniang-niang hingga sekarang, bagaimana rasanya ketakutan bahwa penyakit ganas itu akan merenggut keberadaan mamah disampingku.
Maafkan aku de, aku belum bisa membawa mamah pulang untukmu. Seandainya kita punya uang lebih banyak, mungkin cukup untuk biaya membayar pelayanan dan dokter yang lebih baik, agar mamah cepat kembali ke rumah ini. sayangnya, yang ayah dan kuusahakan belum bisa membuatnya cepat disini, tapi tenanglah ada Allah yang melebihi segalanya, yang akan membuat mamah memelukmu lagi.
Hanya ada aku dan adikku di rumah sederhana ini. Ia masih kupeluk sampai ia tertidur di pangkuanku. Mungkin terlalu lelah main seharian ini, padahal ia belum cerita apa saja yang ia lakukan siang hari tadi, tapi biarlah. Kupindahkan ia ke tempat tidurnya. Biar selimut ini saja ya yang menemanimu malam ini.
Isya sudah tunai kudirikan. Baru saja akan kubuka lembaran diktat kuliahku, Ayah datang. Aku heran.
“Siapa yang menunggu mamah?” tanyaku khawatir.
“Ada kakak, baru datang maghrib tadi.” jawabnya singkat.
Aku buatkan kopi pahit untuknya. Padahal wanita cantik yang biasa menyuguhkan secangkir kopi padanya adalah mamah. Untungnya mamah sudah mengajariku bagaimana membuat kopi yang enak. Lalu ayah berbenah, ia pun menyusul adikku di tempat tidurnya. Ia turut terlelap disana.
Diam-diam kupandangi wajah lelah mereka. Lagi-lagi ini membawaku larut dalam samudera air mata. Seketika memori-memori itu kembali hadir. Dulu aku ingat betul bagaimana payahnya mamah saat mengandung adikku. Di usia kandungan yang nyaris tua, mamah tetap menjadi wanita yang bugar. Larut malam sempat kuintip ia memindahkan air dari bak untuk di tampung di ember-ember, karena pada saat itu musim kemarau, air hanya datang malam hari. Aku ingin membantu, tapi ia marah dan menyuruhku tidur lagi.
Begitupun ceritanya saat mengandung kakakku, pada usianya yang masih muda dulu ia melahirkan pertamakali di kampung sana. Belum mengenal teknologi, semua serba primitif. Ia kesakitan. Menuruti atauran-aturan orang tua yang sekarang dipikir semakin tak logis. Sakitnya melahirkan kakakku membekas, dan berlanjut dengan mengandungku. Tahun 1995 aku lahir, menambah bahagianya dan juga sakitnya mungkin. Luka yang tak terdeteksi sejak 1989 itu infeksi di dalam, dokter memvonisnya kanker, entahlah apa itu aku tak ingin tahu. Sampai akhirnya Tahun 2000 itu menjadi latar waktu bundaku mengalami operasi.
2006 yang lalu adikku lahir, semakin menambah bahagianya, juga sakitnya mungkin. Lahirnya ia pun membekas. Ada guratan melintang di perut mamah. Mamah harus sesar, karena operasi sebelumnya membuat ia tak bisa melahirkan dengan normal.
Sampai tahun ini, rumah sakit itu sering ku kunjungi lagi, dan wanita mulia yang amat kucintai yang berbaring di sana. Entah apa yang sekarang kupikirkan. Aku seolah menjadi saksi kesabaran mamahku, kekuatan ayahku, ketegaran adikku, pun kekhawatiran kakakku. Semua dengan telik kuperhatikan.
Demi Allah, tak ada alasan yang membuatku tak menyayangi mamah! Lelah ini tak sebanding lelahnya mengandungku, membesarkanku. Lemah ini tak selemah ia melawan kanker itu. Lantas apalagi yang kukeluhkan? Aku harus tegar! Karena kisah mamah pun mengajariku untuk tegar.
“Mutiara mamah gak boleh pudar!” ya mamahku tersayang, tentu aku akan selalu bersinar. Meneruskan sianarmu yang kau wariskan. Di setiap mata air perjuanganmu, kupunguti hikmah yang berserakan.. tentang hidup dengan keikhlasan juga kesabaran. Aku meyayangimu lebih dari apapun, tapi sayangmu padaku tak sekedar itu. Malaikatku… lekas sembuhlah…

***





Comments

Post a Comment